Unloved Homeland

Unloved Homeland

By : Layli Zahra

 
Café Terrace at Night
By : Vincent Van Gogh 

Dunia sedang menjauhi. Para pendatang merusak tanah yang suci.

Melukiskan sesuatu di Arles. Untuk perjalanan selanjutnya.

Arles yang dirindukan dan menjadi tempat berpulang, akan hilang.

Tak ada yang benar-benar hilang, Arles.

Tidak ada kata ‘bekas’ tanah kelahiran.

Di tengah perkebunan Kota Arles. Melukiskan sesuatu yang abstrak dan tak terbaca, tentang sesuatu yang terpendam, tersimpan, dan menjadi bayang-bayang yang sulit diartikan. Dalam pikiran. Tersimpan selama bertahun-tahun pada diri seorang Gadis, Anak Arles.

Rumah tua yang sudah meleyot, bangunan yang masih kokoh meskipun dalamnya sudah rusak, hancur, dan tak berbentuk menjadi hal utama dalam lukisan ini. ya, rumah yang tak berbentuk seperti rumah lagi dan tak pantas disebut sebagai ‘rumah’.

“Sejak kapan Kau disini?”

“Kemarin malam,”

“Kau tidur di rumah ini?”

“Ya. Mengapa?”

“Tidak apa-apa. Kau… mengapa kembali?” aku meletakkan kuasku. Menatap mata laki-laki ber -rambut blonde ini.

“Aku merindukan Ibu, apa aku salah jika aku kemari?”

 

Laki-laki ini tersenyum tipis, “Aku harap Kau baik-baik saja, Nona,” ia pergi begitu saja meninggalkanku, aku harap Ia tidak kembali lagi.

Gelas kaca bertuliskan namaku masih tersimpan disini. Aku memegangnya hangat, mengingat tangan Ibu yang selalu memegang gelas ini. Berjalan mengililingi rumah yang luas, menyentuh tembok, meraba lukisan ‘rusak’ kesukaan Ibu, dan memandangi seisi rumah yang hanya menyisakan kenangan.

Kota Arles sudah tua, lebih tua dari lukisan Van Gogh yang Ia lukis disini. Perkebunan yang tak lagi subur seperti sedia kala. Aku ingin kembali pada Arles yang dulu, Arles yang indah, penuh kenangan, semua kebahagiaan ada, termasuk ibu. Oh, Anna yang malang, batinku.

Mengelilingi rumah dari luar, melihat pagar yang sudah mulai rontok satu persatu. Rumah pohon yang hancur terbakar sejak saat itu hanya menyisakan kenanganku bersama Joseph dan tak lupa pepohonan dan rerumputan yang mulai tak keruan. Ibu, Arles yang penuh cinta kini sudah tak sama lagi, berbeda, ini bukan Arles yang ku kenal, batinku.

Orang-orang di desa ini juga terasa asing, apa yang membuat mereka seperti ini? Apa kesedihan akan masa lalu masih menghantui mereka? Apa yang membuat mereka menjadi dingin, penuh amarah, dan kebencian? Sepertinya Ibu beruntung karena mati ditangan para perompak, dari pada harus hidup sendiri bertahun-tahun dengan orang-orang seperti ini.

Aku pergi ke rumah Joseph dan mengajaknya berkeliling kota Arles. Ku rasa Ia berbeda dengan orang-orang desa lainnya. Tadi pagi Ia mengajakku berbicara, dia yang pertama sejak kedatanganku, padahal sudah lebih dari 10 orang berlalu lalang didepanku. Mereka tahu aku, tapi mereka tidak mau tahu tentang diriku, kabarku, dan jika mereka perduli mungkin mereka akan bertanya, “Mengapa kau disini? Kau masih hidup rupanya? Anak cantik sepertimu memang lebih pantas hidup dengan ayahmu daripada dengan ibumu itu!”

“Kau menyetir mobil!” ku lempar kunci mobil pada Joseph.

“Aku?”

“Ya! Aku sudah lupa dengan Arles, jadi Kau harus memanduku,”

“Jadi, anak kota ini sudah melupakan kota kelahirannya, hmm?”

“Ya! Arles sangat membosankan karena ada Kau disana!”

Aku masuk kedalam mobil dengan cepat. Membiarkan Joseph tertawa diluar sana. Kami pun menuju pusat kota Arles. Arles tidak terlalu membosankan, banyak wisata sejarah yang bisa dikunjungi dan dipelajari, bahkan café-café yang indah seperti dalam lukisan Café Terrace at Night milik Van Gogh. Arles membosankan karena ada Joseph yang tinggal disana. 

Arles dengan ribuan kenangannya akan benar-benar kutinggalkan. Aku akan pergi. Meninggalkan semua kenanganku pada Arles. Aku akan melupakan Arles, benar-benar melupakannya dan tak akan kusentuh ataupun ku ucapkan namanya.

“Ayahmu bagaimana?”

“Tidak baik. Ia mengidap Disosiatif. Hartanya benar-benar habis, cintanya juga. Untukku, untuk Ibu, bahkan untuk Bumi pula,”

“Beberapa bulan lalu, para penjarah datang ke Arles. Mereka kembali lagi setelah bertahun-tahun mereka mengambil semua yang kita miliki di Arles,”

“Mengapa mereka kembali?”

“Untuk menghabisi sisa manusia disini mungkin? Setelah mereka mengambil harta, tanah, wibawa, nama baik, dan apapun yang ada di Arles. Mungkin mereka kini menginginkan Arles seutuhnya, tanpa manusia-manusia tak berguna. Seperti apa yang mereka katakan,” aku hanya bisa diam. Ketakutan terlihat jelas disetiap kata yang Ia katakan. Joseph, Kau kuat, Kau bisa bertahan bertahun-tahun di Arles.

“Bagaimana dengan pemerintah? Apa mereka hanya diam saja?”

“Hahaha. Bahkan mungkin mereka menjual Arles kepada para penjarah itu!”

Arles, di malam itu, Bulan Juli. Malam paling buruk sepanjang sejarah Arles. Arles, apa Kau bisa tidur pada malam itu? Karena, Kami tidak bisa menutup mata sedikit pun saat itu.

Aku turun dari mobil dan langsung berjalan menuju Café tujuan, aku meninggalkan Joseph yang masih memakirkan mobil. Aku berjalan dan berpikir. Melihat keseluruhan Kota Arles adalah mimpi buruk saat ini. Mengapa Joseph tidak ingin pergi? Mengapa Ia masih terus bertahan disini bersama keluarganya? Padahal, Arles saat ini hanya menyisakan lagu tidur, yang akan menjadi mimpi buruk ketika benar-benar terlelap. Hanya menunggu waktu dan Arles akan benar-benar menjadi mimpi buruk.

Joseph memesankan minuman untukku. Aku bahkan tidak bisa memilih minuman atau merasakan sesuatu yang aku suka. Orang-orang di Kota Arles berlalu-lalang. Apa mereka tidak takut? Mereka tampak bahagia saja meski badai akan menghadang.

Aku melihat seorang anak penjual Koran berlari menawarkan korannya pada orang-orang. Ia berteriak, membacakan judul terbaru, berharap orang-orang akan tertarik membelinya. Anak ini tidak cocok untuk Arles, Ia berhak mendapatkan rumah yang lebih layak daripada Arles.

“Jangan melamun! Kau sedang memikirkan nasib Arles?” aku mengangguk sembari membuang pandanganku pada anak itu.

“Hahaha, Anna… aku yang penghuninya saja tidak mau ambil pusing untuk kota kecil ini,” Joseph tertawa kecil sambil meneguk minumannya. Dia tampak sangat santai, ya, begitulah Joseph dari dulu. Ku pikir Ia terlalu santai hingga tanah kelahirannya direbut pun Ia hanya diam.

“Bagaimana jika Arles akan direbut? Kau dan keluargamu itu akan diusir. Masyarakat yang tak bersalah akan kehilangan apa yang mereka miliki. Dan Kau! Tak pernah sedikit pun memikirkan Arles. Kau hanya berpikir untuk dirimu sendiri dan keluargamu, Kau punya rumah di Strasbourg. Tapi, bagaimana dengan mereka?!” meluapkan amarahku tentang Arles untuk pertama kalinya. Oh, Arles, karenamu aku harus bertengkar dengan sahabat karibku ini.

Saling diam. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Joseph tak menjawab pertanyaanku, Ia lebih memilih menghisap rokok sambil memandangi Bulan yang menyinari Arles ketimbang menjawab pertanyaanku. Untuk pertama kalinya, aku melihat Joseph bersikap egois.

“Apa yang bisa kulakukan untuk Arles, hmm? Aku, keluargaku, dan semua warga sudah berjuang untuk tanah ini, tapi para Penjarah itu tak akan bisa terkalahkan. Mereka lebih kuat, Kau tahu sendiri ‘kan,” Joseph menjawab pertanyaanku dengan santai, seolah sudah berpasrah dengan keadaan.

“Aku hanya tidak ingin Arles menjadi kenangan belaka atau mungkin nantinya akan menjadi legenda yang tidak semua orang tahu kebenarannya. Arles adalah tempat yang paling kurindukan, meski aku membencinya. Joseph, jika Arles nantinya akan hilang dan menjadi dongeng belaka. Apa yang kau rindukan padanya?”

“Kau,”

Sepulang dari Café, aku membaringkan diriku di kasur. Sudah pukul 9 malam dan aku belum mempersiapkan diriku untuk pulang. Pulang dan tidak akan kembali pada Arles lagi. Menatap langit-langit kamar Ibu, memejamkan mata seraya mengingat Ibu. Ibu, Kau benar. Arles adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa indah, seribu kebahagiaan tercipta di Arles. Hingga disaat Tuhan meminta Arles untuk kembali padanya, maka Ia benar-benar hilang dan hancur.

Ibu, Ayah merindukanmu. Mungkin Ia dulu meninggalkanmu dengan penuh amarah dan kebencian, tetapi sekarang, matanya menjelaskan kerinduan dan melukiskan sisa kenangan kalian. Ia benar-benar kehilangan akan dirimu, sisa cintanya kini memang hanya untukmu.

Aku mengambil ransel dan mempersiapkan semuanya, aku juga membawa foto ibu serta membersihkan rumah ini untuk terakhir kalinya. Meraba, menyentuh, dan merasakan kenangan terakhir di rumah ini. Aku meneteskan air mataku, sesekali tidak apa bukan? Aku hanya… sedikit rindu dengan rumah ini. Ya, rindu dan mengunjungi rumah ini, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan rumah ini dan melupakannya.

Aku mengunjungi Joseph yang sedang membersihkan kandang ternaknya. Aku ingin berpamitan, mungkin ini juga terakhir kalinya aku berjumpa dengannya, sebagai sahabat yang baik dan sahabat masa kecilku.

“Hei, waktunya pulang?”

“Ya, dan tidak akan kembali lagi,” aku melihat Joseph tersenyum kecut, mungkin Ia akan merasa sendirian disini.

“Hati-hati, aku juga akan pindah ke Strasbourg 3 bulan lagi,”

“Kita akan bertemu!”

“Hmm? Bahkan jarak Paris ke Strasbourg membutuhkan waktu cukup lama,”

“Tidak, kita tidak akan bertemu lagi di Paris maupun Strasbourg atau bahkan kota-kota lainnya di Prancis, Joseph,”

“Lalu, kita akan bertemu lagi dimana?”

“Di Arles,”

Di segala kenanganku bersamamu, Joseph.

Joseph memelukku erat, aku membalas pelukan hangatnya. Aku akan merindukannya, tentu saja, Joseph selalu menemaniku dikala aku sedih, saat di Arles.  

Radio memutar lagu-lagu tahun 60an. Lagu-lagu favorit ibu dulunya. Aku sudah meninggalkan Arles dan seperti janjiku, aku tidak akan kembali lagi. Ya, tidak akan kembali lagi, sekalipun ada Joseph disana. Aku akan benar-benar melupakan Arles. Selamat tinggal, tanah kelahiranku.

Di satu malam di Prancis. Menghidupkan cahaya sunflowers yang siap dilukis Van Gogh. Aku disisimu, Arles. Kau tahu betul aku membencimu, segala yang ada padamu sudah mati di diriku, hanya tersisa rasa yang pahit. Tapi, Kau menjadi alasanku tetap hidup di Bumi.

Jalan setapak di Paris menjadi saksi bisu. Di malam penuh cahaya, seorang anak Arles bersumpah. Pada dirinya, pada Paris, dan pada Arles yang jauh disana. Untuk menghormati rasa cintanya, untuk memaafkan separuh hidupnya. Ia meninggalkan Arles dan tidak akan mengambil kenangan darinya sedikit pun, untuk selamanya. 

 

SELESAI.

Postingan populer dari blog ini

Beneath the Cottage in Pumpkin Shore

The Right Train Won't Pass You By

The Day We Chose To Hurt Each Other