Postingan

The Day We Chose To Hurt Each Other

 The Day We Chose To Hurt Each Other A Story by Layli Zahra (‼️DO NOT COPY OR PLAGIARIZE MY STORIES‼️) I:  Saat salju pertama turun di kota ini, Toyama. Aku mempercepat ayuhan sepeda merah adikku yang rantainya hampir putus. Nafas yang tersendat-sendat dan dingin yang merasuk ke dalam tubuhku tidak menghentikan ayuhan yang semakin berat kurasakan. Malam yang seharusnya dipenuhi kehangatan, justru kembali membawa luka yang harus kami hadapi sekali lagi. Setidaknya 100 meter lagi dan rantai sepeda ini menyerah. Tubuhku terjatuh karena terlalu kencang mengayuh. Aku terjatuh ke salju, tubuhku menggigil hebat. Nafasku berat, bibirku seolah tak mampu tertutup karena udara dingin yang begitu tajam menusuk kulitku. Masih ada satu turunan terakhir sebelum aku tiba di tempat itu. Ku bawa sepeda ini berjalan pelan namun pasti menuju cahaya itu, cahaya yang semula satu menjadi sepuluh. Siluet sebuah rumah mulai terlihat, lalu perlahan berubah menjadi bentuk utuh. Semakin dekat aku melangk...

The Right Train Won't Pass You By

The Right Train Won't Pass You By By : Layli Zahra (‼️DO NOT COPY OR PLAGIARIZE MY STORIES‼️) Waktu itu, Papa dan Mama memberikanku nama Rana . Bukan saat aku lahir, tapi saat mereka menemukanku didepan pintu rumah mereka. Lebih dari dua dekade lalu, bayi kecil dibiarkan begitu saja didalam kardus bekas mie instan yang sudah peyot, bahkan dinginnya udara pada musim hujan itu mengalahkan empati si pemilik bayi. Bagaimana tidak, seorang bayi yang mungkin belum satu minggu menyapa Bumi harus mengemis minta tolong ke para orang kaya untuk dirawat karena orangtua asli bayi ini miskin atau mungkin masih terlalu muda atau mungkin lebih parah--bayi ini adalah anak yang tidak diinginkan.  Hari ini aku wisuda. Hari yang sangat dinanti oleh kakak tiriku, Deva. Sebenarnya aku pun bahagia, tapi kakak laki-laki ku ini tampaknya akan lebih bahagia karena hari ini adalah hari dimana anak buangan ini akan pergi dari rumah dan tidak kembali lagi, sesuai dengan sumpah yang ku ikrarkan kepadanya. Sela...

Beneath the Cottage in Pumpkin Shore

BENEATH THE COTTAGE IN PUMPKIN SHORE  A Short Story by Layli Zahra Note: still a raw story (without edit and checking grammar or typo)  Aku meninggal empat kali dalam minggu ini. Pertama saat hamsterku, Jahe, mati tanpa alasan yang jelas. Kedua saat esoknya aku melihat pengumuman interview kerja dan ternyata aku gagal. Ketiga saat Ibu dengan seenaknya memberikan gundam milikku ke sepupuku yang masih anak-anak tanpa izin dan gundam itu pun rusak. Keempat saat di hari sabtu yang cerah, bapak tertabrak mobil dan harus kehilangan kaki kanannya. Semua terasa sangat cepat dalam satu minggu. Aku bahkan belum bisa mencerna apa saja yang telah terjadi. Memahami saja aku belum mampu, apalagi mengikhlaskan semua yang telah pergi. Dinginnya rumah sakit yang menusuk berhasil membuat mataku perlahan menutup. Entah sudah berapa jam aku menunggu Bapak untuk keluar dari ruang operasi. Ibu dan adikku masih menangis tersedu-sedu sambil berdoa kepada Tuhan, sementara diriku rasanya ingin...

Unloved Homeland

Gambar
Unloved Homeland By : Layli Zahra   Café Terrace at Night By : Vincent Van Gogh   Dunia sedang menjauhi. Para pendatang merusak tanah yang suci. Melukiskan sesuatu di Arles. Untuk perjalanan selanjutnya. Arles yang dirindukan dan menjadi tempat berpulang, akan hilang. Tak ada yang benar-benar hilang, Arles. Tidak ada kata ‘bekas’ tanah kelahiran. Di tengah perkebunan Kota Arles. Melukiskan sesuatu yang abstrak dan tak terbaca, tentang sesuatu yang terpendam, tersimpan, dan menjadi bayang-bayang yang sulit diartikan. Dalam pikiran. Tersimpan selama bertahun-tahun pada diri seorang Gadis, Anak Arles. Rumah tua yang sudah meleyot, bangunan yang masih kokoh meskipun dalamnya sudah rusak, hancur, dan tak berbentuk menjadi hal utama dalam lukisan ini. ya, rumah yang tak berbentuk seperti rumah lagi dan tak pantas disebut sebagai ‘rumah’. “Sejak kapan Kau disini?” “Kemarin malam,” “Kau tidur di rumah ini?” “Ya. Mengapa?” “Tidak apa-apa. Kau… mengapa k...