The Day We Chose To Hurt Each Other

 The Day We Chose To Hurt Each Other

A Story by Layli Zahra

(‼️DO NOT COPY OR PLAGIARIZE MY STORIES‼️)

I: 

Saat salju pertama turun di kota ini, Toyama. Aku mempercepat ayuhan sepeda merah adikku yang rantainya hampir putus. Nafas yang tersendat-sendat dan dingin yang merasuk ke dalam tubuhku tidak menghentikan ayuhan yang semakin berat kurasakan. Malam yang seharusnya dipenuhi kehangatan, justru kembali membawa luka yang harus kami hadapi sekali lagi.

Setidaknya 100 meter lagi dan rantai sepeda ini menyerah. Tubuhku terjatuh karena terlalu kencang mengayuh. Aku terjatuh ke salju, tubuhku menggigil hebat. Nafasku berat, bibirku seolah tak mampu tertutup karena udara dingin yang begitu tajam menusuk kulitku. Masih ada satu turunan terakhir sebelum aku tiba di tempat itu.

Ku bawa sepeda ini berjalan pelan namun pasti menuju cahaya itu, cahaya yang semula satu menjadi sepuluh. Siluet sebuah rumah mulai terlihat, lalu perlahan berubah menjadi bentuk utuh. Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas kerumunan orang di depan rumah kecil itu. Aku tidak mengenal satu pun dari mereka, tapi tatapan mereka padaku menunjukkan rasa kasihan yang sangat jelas. Celana sekolahku robek akibat terjatuh dan tubuhku hanya berbalut kemeja sekolah tipis tanpa jaket dimusim dingin ini. Mereka memandangku heran dan mungkin juga prihatin, tapi aku tidak peduli. Yang ku pedulikan hanya seorang gadis muda yang tertidur selamanya, sahabatku, Shimizu Ana.

Kuletakkan sepeda ini sembarangan didepan rumah. Tanganku menggenggam erat dupa dan krisan putih yang kubawa dari tas. Begitu memasuki ruangan utama, aku langsung tahu bahwa prosesi osōshiki telah dimulai. Suasananya jauh lebih hening dibandingkan bagian depan. Semua orang duduk berbaris rapi di atas zabuton, menghadap altar tempat foto Ana berada. Lampu ruangan diredupkan, hanya lilin dan lampu kertas yang memberikan cahaya lembut. 

Seorang pendeta Buddhis duduk di depan altar, mengenakan jubah sutra berwarna gelap yang memantulkan cahaya lilin. Suaranya terdengar dalam ritme yang teratur—shōmyō, lantunan sutra yang membuat udara terasa berat namun damai. Setiap nada seperti mengisi ruang kosong di dada yang menenangkan. Di samping pendeta, sebuah lonceng kecil dipukul perlahan. Suaranya jernih dan menggema pendek sebelum hilang begitu saja.

Aku mengambil posisi di barisan belakang, berusaha tidak menimbulkan suara. Dupa di tempat pembakaran terus mengepulkan asap tipis. Aromanya memenuhi ruangan, lembut, bersih, dan sedikit getir, aroma yang biasa muncul di setiap perpisahan terakhir di Jepang. Satu per satu, pelayat berdiri dan maju ke depan untuk melakukan oshōkō, ritual menaburkan dupa. Gerakannya selalu sama, para pelayat menunduk, mengambil sedikit bubuk dupa, mengangkatnya sejenak, lalu menaburkannya ke dalam tungku. Simbol doa, penghormatan, dan perpisahan yang sederhana. 

Giliranku akhirnya tiba, aku maju dengan langkah pelan. Tidak ada suara, kecuali seret halus kakiku di atas tatami. Saat aku menaburkan dupa, kepalaku otomatis menunduk, bukan karena aku harus, tetapi karena aku ingin. Diam sejenak dan kembali ke tempat duduk. Tidak ada tangis keras. Tidak ada histeris. Entah mengapa aku pun tak tahu, air mata ku seperti tersegel dan enggan terjatuh. Mataku melihat sekeliling. Diantara barisan para pelayat, aku melihat Sano berdiri dengan wajah datar, kedua tangannya saling menggenggam erat. Ia menatap altar Ana dengan tenang, seperti seseorang yang berusaha memahami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. 

Namun, ada satu orang yang tidak terlihat sedikit pun batang hidungnya. Setelah menyusuri sekeliling ruangan, aku tidak menemukan Hiro sama sekali. Tidak dibarisan depan, tidak disudut ruangan, atau berdiri di dekat pintu. Hiro, kekasih Ana, menghilang dihari kepergian gadis yang ia cintai. 

Sebelum hari semakin malam, aku pamit lebih awal kepada keluarga Shimizu. Kepergian anak perempuan satu-satunya pasti terasa berat, terutama untuk ayah Ana, Paman Ito, yang tidak bisa bertemu putrinya untuk terakhir kali karena dia bekerja di Tokyo. Mereka menawariku makanan sebelum pulang, sama seperti apa yang mereka tawarkan pada kami setiap kali kami mengunjungi rumah ini. Namun untuk kali ini, aku tidak bisa menerimanya. Aku memeluk Paman Ito, dia menangis dan berkali-kali berucap,

"Terima kasih telah menjadi teman baik anakku." 

Aku membalas pelukannya, air mataku akhirnya terjatuh setelah sekian lama aku tahan. Ana selalu bangga pada ayahnya, meskipun mereka jarang bertemu. Dia selalu ingin hidup di Tokyo agar bisa bertemu dengan ayahnya setiap hari. 

Beberapa pelayat sudah kembali ke kediaman masing-masing. Hari semakin malam, aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke rumah dengan sepeda merah yang sudah tidak berguna ini. 

"Ryu!" Cahaya lampu mobil menerangkan jalan di depan rumah Ana. Aku melihat Sano dan mobil tua miliknya berhenti tepat di depanku. 

"Hoi!" Sapaku. 

"Ada apa dengan sepeda merah adikmu itu?" Ia melihat sepeda tidak berguna ini dengan tawa. Aku tahu bahwa aku akan habis saat sampai rumah dengan kondisi seperti ini. 

"Tidak usah banyak tanya, lebih baik kau memberiku tumpangan hingga ke rumah." 

"Hahaha, aku harap kau akan habis sesampainya di rumah. Ayo naik!" 

Sano membantuku memasukkan sepeda ini ke bagasi mobilnya. Setidaknya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke rumahku. Saat ini sudah pukul 20.10, sebentar lagi toko-toko akan tutup dan aku harap jalan mulai sepi. Tidak ada pembicaraan selama di mobil. Hanya suara radio mobil yang memenuhi otak kami berdua. Pandanganku terpaku melihat jalanan yang sudah dipenuhi salju. 

"Kau tidak lapar?" Lamunanku terpecah dengan pertanyaan Sano. Ku akui bahwa aku sangat lapar saat ini. Perjalanan 40 menit menggunakan sepeda dengan cuaca yang tidak bersahabat sangat menguras tenagaku. 

"Aku ingin shiroebi don." Hidangan khas Toyama berupa udang putih segar di atas nasi hangat, makanan favorit Ana. Dimana pun kami berkunjung ke suatu restoran, gadis itu pasti menanyakan makanan favoritnya itu. 

Kami berhenti sejenak untuk mengisi perut yang sudah tidak karuan. Untungnya, tidak jauh dari rumah ku ada satu restoran Shiroebi yang masih buka. Lampu kuning di depannya tampak redup, tapi cukup untuk memberikan kesan hangat di tengah malam bersalju seperti ini. Restorannya kecil, hanya memiliki enam meja kayu dengan tatami yang mulai menua. Tidak ada pelanggan lain selain kami. Namun, hal ini justru ketenangan yang kami butuhkan saat ini. 

Pemilik restoran yang sudah lanjut usia menyambut kami dengan senyum lembut. Pasangan suami-istri itu bekerja dengan damai. Sembari menunggu sang suami memasak pesanan kami di dapur, istrinya menyiapkan teh hangat untuk kami. Aku pernah makan di sini sebelumnya, shiroebi mereka selalu segar, manis, dan lembut. Sayangnya Ana tidak pernah merasakan shiroebi disini. 

Sano duduk di depanku, menggosok kedua tangannya yang dingin.

“Tempat ini tidak berubah, ya,” katanya pelan.

Aku mengangguk sambil menatap interiornya. Dinding kayu, suara panci dari dapur, aroma kaldu hangat yang mengisi udara, semuanya seperti pelukan tipis yang kami butuhkan malam ini. Tak lama kemudian, semangkuk shiroebi don diletakkan tersaji. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, aku merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. 

Sano meniupkan udara hangat ke tangannya sebelum mengambil sumpit. “Akhirnya kita bisa makan,” gumamnya. Uap dari mangkuk shiroebi don menonjolkan aroma lembut udang putih yang baru saja disajikan. Aku mengambil suapan pertama. Rasa manis udang segar bercampur dengan hangatnya nasi membuat tubuhku perlahan rileks. Baru beberapa suap, Sano menatapku dari balik mangkuknya.

"Tadi aku tidak melihat Hiro." Ucapnya datar seolah itu adalah hal yang biasa. Meskipun kami tahu itu bukan hal yang biasa. 

Aku mengalihkan pandanganku dari hidangan yang begitu lezat ini. 

"Aku mencarinya," gumamku pelan. "Tidak ada. Bahkan bayangannya pun tidak." 

Sano menggerakkan sumpitnya perlahan, lalu meletakkannya di atas mangkuk. Ia tidak langsung menanggapi ucapanku, hanya menatap meja sebentar sebelum akhirnya berkata, “Kupikir… dia akan datang. Seharusnya dia datang." 

“Aku juga,” aku menarik napas tipis. “Dia kekasih Ana. Setidaknya… aku pikir dia akan ada di sana.”

Sano menyenderkan tubuhnya ke kursi. “Menurutmu kenapa dia tidak muncul?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi entah mengapa aku tidak bisa menjawabnya. Aku memutar sendok di dalam mangkuk tanpa niat melanjutkan makan untuk sesaat. 

“Aku tidak tahu. Mungkin dia tidak sanggup atau ada sesuatu yang terjadi.” Jawabku jujur.

Sano mengernyit kecil. “Tapi Hiro bukan tipe yang menghilang begitu saja, dia selalu ada untuk Ana. Selalu.”

Aku menelan ludah, sedikit sulit. “Justru itu yang membuatku bingung.”

Restoran kembali sunyi. Hanya terdengar suara lembut dari dapur saat pemilik restoran bersiap untuk menutup restoran ini. Di luar, salju turun perlahan, menempel di kaca jendela seperti bintik-bintik putih kecil. Sano menatap salju itu sejenak sebelum kembali membuka suara. “Kau yakin dia tidak memberimu pesan? Atau menghubungimu?”

Aku menggeleng. “Tidak ada. Ponselku juga tidak berdering sepanjang hari.”

Sano mendecak pelan, seperti orang yang diganggu rasa penasaran. "Aneh. Sangat aneh. Beberapa kali aku meneleponnya untuk berangkat bersama ke rumah Ana, tapi dia tidak mengangkat satu pun panggilanku." 

Aku menatap mangkukku lagi. “Ya. Dan entah kenapa… ada merasa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.”

Sano menegakkan duduknya, lalu menatapku dengan ekspresi lebih serius. “Kau berpikir ada sesuatu yang terjadi pada Hiro?”

Aku tidak langsung menjawab. Yang kurasakan hanyalah kegelisahan samar, entah datang dari lelah, duka, atau firasat yang tak jarang salah. 

"Aku tidak tahu." Kali ini suaraku nyaris seperti bisikan.

“Tapi… rasanya ada sesuatu yang tidak beres.”

Sano terdiam dan untuk pertama kalinya sejak kami tiba, ia tidak punya jawaban.

-------------

Setelah menghabiskan waktu untuk berpikir dalam semangkuk shiroebi don. Kami terlena dalam lamunan berantai yang tidak ada ujungnya. Obasan pemilik restoran menghampiri kami dan membuyarkan tali lamunan ini. Sesaat setelah kami sadar, aku melihat ponselku yang beberapa kali berdering, ibu dan nee-chan menghubungiku lebih dari lima kali. Yang lebih membuatku terkejut adalah jam yang menunjukkan pukul 21:20, tempat ini seharusnya sudah tutup sedari tadi. 

"Apakah kalian sudah selesai?" Aku dan Sano saling bertatapan, kami merasa sangat tidak enak dengan nenek dan kakek pemilik restoran. 

"Tentu! hehe, maaf kami sedikit ada masalah." Ucapku dan Sano menatapku dengan kaget.

"Oh... aku harap bukan masalah yang besar." 

Setelah Obasan mengambil mangkuk-mangkuk itu, aku dan Sano segera berdiri. Ia mengangguk kecil sambil tersenyum ramah, senyum yang justru membuatku merasa semakin bersalah karena membuatnya bekerja lebih lama.

“Kami benar-benar minta maaf sudah mengganggu jam tutup,” ucap Sano sambil membungkuk singkat.

“Tidak apa-apa,” jawab Obasan. “Kalian anak-anak baik. Hanya saja… pulanglah sebelum lebih dingin.”

Aku menautkan kedua tanganku dan ikut membungkuk.
“Terima kasih banyak, Obasan. Shiroebi-nya… tetap yang terenak.”

Ia tertawa kecil, mengibaskan tangan seperti mengatakan bahwa itu bukan apa-apa. Namun wajahnya terlihat lelah, keriput di sekitar matanya begitu jelas, dan apron yang ia pakai sudah sedikit kusut. Obasan pasti ingin segera beristirahat.

Kami keluar dari restoran, membiarkan pintu kayu bergemerincing pelan di belakang. Udara malam langsung memukul wajahku, dingin dan tajam. Sano memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, sementara aku hanya diam menatap napas kami yang berubah menjadi asap putih.

“Seharusnya kita sadar waktu,” gumamnya.

“Aku juga tidak tahu kalau sudah jam segini.”

“Ya, sama.”

Sano mengantarkanku pulang. Selama diperjalanan, lagi-lagi kami hanya fokus pada pikiran masing-masing. Sesampainya didepan rumah, mobil Sano berhenti tepat didepan rumahku. Aku masih terdiam, masih tidak ada rasa dan keinginan untuk turun. 

Sano mematikan mesin mobil. Keheningan tiba-tiba memenuhi kabin.

"Aku rindu persahabatan kita dulu." Sano menghela napas panjang. Dari sudut kaca, kulihat foto kecil yang menempel di dashboard mobilnya, foto kami berlima, diambil tiga tahun lalu saat festival musim panas. Aku, Sano, Hiro, Ana, dan... satu lagi, Nara. 

Rasanya seperti melihat kehidupan yang tidak lagi kami miliki. Aku ingin berkata sesuatu, tapi kata-katanya terlalu benar untuk kutanggapi begitu saja. Jadi aku hanya mengangguk dan membuka pintu.

"Terima kasih." ucapku singkat.

Sano tersenyum tipis. “Istirahatlah.”

------- 

Saat di rumah, aku bertemu dengan adikku, Ayumi. Dia mengomel karena aku merusakkan sepedanya. Aku tidak memiliki energi lagi selain menjawab, "Ku perbaiki besok." Ayumi mengerucutkan bibirnya, tidak puas, tetapi ia akhirnya hanya mendengus dan kembali ke kamarnya. Aku tahu aku tidak menjanjikan apa pun bahkan aku tidak yakin punya tenaga untuk menyentuh sepeda itu besok.

Aku melangkah menuju kamar, membiarkan kehangatan rumah perlahan menggantikan dingin yang sejak sore tadi menempel di tubuhku. Namun tidak ada yang benar-benar menghangatkanku hari ini.

Tidak setelah Ana pergi. Tidak setelah satu dari kami hilang kembali. 

---------

II : 

Cahaya matahari menembus tirai kamarku, langsung menusuk kelopak mataku yang masih terpejam. Aku mengerang pelan. Rupanya semalam aku tertidur tanpa mematikan lampu, tanpa membereskan apapun bahkan tanpa menutup album foto yang kini tergeletak di samping bantal. Matahari masuk tanpa permisi, seolah mengingatkanku bahwa Ibu mungkin sudah siap memarahiku jika aku tidak segera bangun.

Dengan malas aku bangkit dari kasur. Selimut kusut menumpuk di kakiku dan kamarku terlihat lebih berantakan dari biasanya. Album foto yang terbuka masih menunjukkan halaman yang sama halaman yang semalam kubuka karena ingin mengingat sedikit saja masa ketika semuanya masih baik-baik saja.

Sano bertubuh besar dengan rambut lebat dan senyum yang merekah, dia memang selalu menjadi penghibur kami. 

Hiro adalah laki-laki paling tampan diantara kami bertiga, tak kaget dia menjadi bintang di sekolah kami. 

Ana adalah gadis paling ceria dan menyenangkan, dia juga sering menghibur kami seperti Sano. Jujur saja, dia dan Sano jauh lebih cocok, dua orang yang sama-sama membawa cahaya. Tapi pada akhirnya, hatinya memilih Hiro.

Dan yang terakhir, Nara. 

Gadis aristokrat dari Kyoto yang baru pindah ke Toyama saat kami kelas satu. Keluarga terpandang, tutur kata halus, dan gadis idola banyak laki-laki sekolah ini. Ia punya darah Eropa dari kakeknya, membuat parasnya berbeda dari anak-anak di kota ini.

Saat itu, dia hanya berteman dengan bangku kelas dan buku-buku jadul di perpustakaan kelas kami. Hingga akhirnya, Ana memberanikan diri mengajaknya bergabung dan bermain bersama kami. Meskipun cukup pendiam, Nara adalah gadis yang pengertian dan sangat baik hati. Karena sempat merasakan sekolah di Eropa, bahasa Inggris Nara sangat fasih. Ia dengan sabar mengajari kami Bahasa Inggris. Selain itu, meskipun kami baru saja saling mengenal, ia tidak ragu mengajak kami berlibur bersama. Namun, semua kebaikan yang ia beri pada kami berakhir pada saat itu. 

SMU X, Kota Toyama. 

Satu tahun yang lalu. 

Hari itu kota kami diguncang kabar buruk. Sejak pagi, televisi lokal menyiarkan peringatan gelombang pasang kecil di sekitar Toyama Bay. Tidak besar, hanya 1,2 sampai 1,5 meter, kata berita. Orang-orang tidak terlalu panik karena gelombang semacam itu terkadang memang terjadi. Namun, tetap saja, sekolah kami diminta menutup lebih awal.

Setelah kelas dibubarkan, para siswa segera pulang, sementara guru dan staf memastikan semua bangunan aman. Aku bersama Sano, Hiro, dan Ana menunggu di gerbang sekolah, memandangi langit kelabu yang mulai memercikkan hujan tipis.

“Ke mana Nara?” tanya Ana sambil menatap jalan.

“Dia bilang ingin pulang lebih dulu saat istirahat,” jawab Hiro. “Katanya kakeknya datang dari Eropa.”

Aku tidak terlalu menghiraukannya. Nara memang tipe yang tidak suka ribut. Jika harus pulang cepat, dia pulang tanpa banyak bicara.

Namun saat sore menjelang dan hujan semakin lebat, kabar itu datang.

Nara tidak pernah sampai di rumah.

Keluarganya menghubungi sekolah. Beberapa guru kembali datang dan polisi lokal mulai mencari di sepanjang garis pantai serta jalan menuju rumahnya. Saat itu, semua orang percaya ia hanyut atau terseret air akibat gelombang pasang mendadak. Sebuah musibah, pikir kami. Toyama memang tidak rawan tsunami besar, tapi gelombang pasang bisa cukup kuat untuk menyeret anak seusia kami. 

Namun, hilangnya Nara ternyata tidak sekadar menjadi urusan lokal.

Dalam hitungan jam, berita itu menyebar hingga ke stasiun TV nasional. Mobil-mobil media mulai berdatangan ke sekitar sekolah dan wilayah itu mendadak penuh dengan kamera serta wartawan yang berbisik-bisik.

Kami baru mengerti alasannya ketika Sensei memanggil kami berempat untuk bicara.

Nara bukan gadis biasa.

Kakek dari pihak ayahnya adalah mantan Perdana Menteri Jepang, seseorang yang sering kami lihat namanya di buku pelajaran sejarah modern. Sementara dari pihak ibu, keluarga Nara masih memiliki hubungan dengan keluarga bangsawan Inggris, garis keturunan lama yang tetap dihormati meski tidak memegang kekuasaan apa pun.










Postingan populer dari blog ini

Beneath the Cottage in Pumpkin Shore

The Right Train Won't Pass You By