The Right Train Won't Pass You By
The Right Train Won't Pass You By
By : Layli Zahra
(‼️DO NOT COPY OR PLAGIARIZE MY STORIES‼️)
Waktu itu, Papa dan Mama memberikanku nama Rana. Bukan saat aku lahir, tapi saat mereka menemukanku didepan pintu rumah mereka. Lebih dari dua dekade lalu, bayi kecil dibiarkan begitu saja didalam kardus bekas mie instan yang sudah peyot, bahkan dinginnya udara pada musim hujan itu mengalahkan empati si pemilik bayi. Bagaimana tidak, seorang bayi yang mungkin belum satu minggu menyapa Bumi harus mengemis minta tolong ke para orang kaya untuk dirawat karena orangtua asli bayi ini miskin atau mungkin masih terlalu muda atau mungkin lebih parah--bayi ini adalah anak yang tidak diinginkan.
"Ma, Pa. Aku mau bicara sesuatu." Kami menghabiskan waktu setelah wisuda disebuah restoran favorit keluarga. Mama dan Papa melihatku serentak. Ku pandangi wajah mereka satu per satu dengan dalam. Tuhan, aku akan sangat merindukan mereka.
"Aku sudah memutuskan kalau aku akan pergi dari rumah dan berkelana." Satu kalimat yang cukup membuat mama dan papa terkejut. Mama Hana sangat menyayangiku selayaknya putrinya sendiri. Ibu mana yang tidak khawatir ketika putrinya ingin pergi dan tidak akan kembali?
ARC 1 -- Kereta Senja yang Telah Menunggu
Toga itu sudah kulipat rapi di dalam tas. Foto wisuda sudah diunggah Mama di Instagram dengan caption yang terasa lebih seperti pengumuman daripada kebanggaan. Dan Deva, kakakku yang tidak pernah benar-benar menjadi kakak, melambaikan tangan dari ambang pintu dengan senyum yang terlalu lebar untuk sesuatu yang tulus.
Aku pergi dengan satu koper dan tas gunung yang aku beli dari uang selama aku bekerja dimasa kuliah.
Stasiun Gambir siang itu penuh seperti biasa. Manusia bergerak ke segala arah, seolah semua orang disini adalah pejabat yang diburu oleh jadwal penting atau sebenarnya tidak. Aku berdiri di antara mereka dengan tujuan yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya mengerti. Hanya tahu bahwa aku harus pergi. Entah ke mana dulu.
Botol minumku terjatuh dari tas karena senggolan orang yang berlari. Bunyi plastiknya bergema di lantai marmer, menggelinding ke arah sepasang sepatu kulit cokelat yang berhenti tepat sebelum menginjak.
"Ini punyamu?"
Lelaki itu menunduk, mengambil botolku, lalu menyerahkannya dengan cara yang biasa saja. Tidak dramatis seperti difilm percintaan. Tapi entah kenapa aku memperhatikan tangannya yang cukup tenang dan tidak terburu-buru, padahal di sekelilingnya semua orang sedang dikejar oleh setan.
"Makasih," kataku.
"Penyok," ujarnya sambil menunjuk sisi botol yang memang sudah penyok sejak dua tahun lalu. "Mau aku ganti?"
Aku hampir tertawa. "Nggak perlu, ini penyok dari dulu."
"Yakin? Aku merasa bersalah, nih."
"Kamu nggak nginjak."
Dia tersenyum, bukan senyum yang mencoba terlihat tampan, tapi senyum orang yang memang terbiasa santai. "Rendra," katanya sembari menyodorkan tangan.
"Rana."
Lalu pengeras suara stasiun menyebut nama keretaku. Aku menoleh, panik, lalu kembali menatapnya sebentar.
"Maaf, aku harus —"
"Pergi," dia mengangguk. "Iya, pergi dulu."
Dan aku pergi, berlari kecil menarik koper, tanpa menengok lagi. Tapi entah kenapa nama itu terasa seperti sesuatu yang sengaja diletakkan di hari itu.
ARC 2 -- Cottage di Pantai Labu
Aku tidak punya rencana. Hanya tiket kereta ke arah selatan dan sisa tabungan yang cukup untuk beberapa minggu kalau aku tidak boros.
Di kereta, seorang bapak duduk di sebelahku. Ramah sejak menit pertama, tapi ramahnya tidak mengganggu, lebih seperti orang yang sudah terbiasa dengan perjalanan dan tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Pak Hadi namanya. Pemilik cottage di Pantai Labu, katanya, sambil menunjukkan foto-foto di ponselnya. Bangunannya sederhana tapi terlihat seperti tempat yang tahu cara menghormati laut.
"Sendirian?" tanyanya.
"Iya."
"Habis wisuda?"
Aku sedikit kaget. "Ketahuan?"
"Masih ada bekas pita toga di rambutmu."
Aku langsung menyentuh kepala dan memang ada, sehelai pita kuning kecil yang terselip tanpa aku sadari. Aku tertawa kecil. Entah sudah berapa jam pita itu di sana tanpa ada yang memberitahu.
"Kalau mau mampir, nanti saya kasih harga spesial," katanya sambil menyerahkan kartu nama. "anggap saja hadiah wisuda dari orang asing di kereta."
Aku tidak langsung percaya. Tapi ada sesuatu di wajah Pak Hadi yaitu cara beliau mengenalkan Pantai Labu, tentang tempat istirahat miliknya, dan seluk beluk kehidupan karyawannya yang terasa seperti nasihat yang tidak pernah aku dapat dari siapa pun di rumah.
Aku menyimpan kartunya.
Pantai Labu tidak ramai bahkan cenderung sepi. Justru itu yang aku suka.
Aku duduk di tepi air sore hari ketiga, melepas sandal, membiarkan ombak menyentuh kaki sebentar lalu pergi. Aku sedang mencoba menulis di buku catatan. Bukan cerita, bukan puisi, hanya daftar hal-hal yang aku rasakan tapi belum pernah aku ucapkan ke siapa pun.
"Rana?"
Aku mendongak.
Rendra berdiri beberapa langkah dariku, tampak sama terkejutnya.
"Kamu..." aku mengerutkan dahi. "Yang di stasiun?"
"Yang kamu tinggal kabur itu, iya." Dia tersenyum lagi dengan cara yang sama — santai, tidak dibuat-buat.
Ternyata dia juga menginap di cottage Pak Hadi. Kebetulan yang terlalu pas untuk disebut kebetulan, tapi kami berdua tidak terlalu mempermasalahkan itu. Kadang hidup memang suka menaruh orang yang sama di tempat yang sama, dua kali, sebelum kita benar-benar siap memperhatikan mereka.
Kami duduk di sana cukup lama. Bicara tentang hal-hal ringan dulu seperti kopi favorit, cuaca yang sedang cerah meskipun beberapa hari lalu sempat tak menentu, dan menceritakan pengalaman masing-masing. Rendra bicara dengan cara yang aneh: dia tidak pernah memotong, tidak pernah terburu-buru menjawab, seolah setiap kata yang aku ucapkan punya hak untuk selesai dulu sebelum ditanggapi.
Aku tidak terbiasa dengan itu.
Di rumah, orang-orang selalu lebih sibuk dengan respons mereka sendiri.
ARC 2 -- Tentang Hal yang Susah Diucapkan
Malam keempat, kami duduk di dermaga kecil yang kayunya sudah agak rapuh tapi masih kuat menahan kami berdua. Pak Hadi tadi malam masak ikan bakar dan kami makan bertiga sambil mendengarkan cerita beliau tentang masa mudanya yang ternyata tidak sesederhana penampilannya sekarang.
Pulangnya, aku dan Rendra masih duduk di sana. Lampu cottage berkelip dari kejauhan.
"Kamu pergi ke mana setelah ini?" tanyanya.
"Belum tahu."
"Kabur dari sesuatu?"
Aku diam sebentar. "Atau mencari sesuatu. Kadang aku sendiri nggak tahu mana yang lebih benar."
Rendra tidak langsung menanggapi. Dia menatap laut.
"Biasanya kalau kita nggak tahu," katanya pelan, "itu artinya dua-duanya benar."
Malam itu aku mulai cerita. Sedikit dulu — tentang Deva, tentang cara dia memandangku seperti aku adalah kesalahan yang harus ditoleransi. Tentang rumah yang selalu terasa seperti tempat aku perlu membuktikan diri, bukan tempat aku perlu beristirahat.
Rendra mendengarkan. Hanya itu. Tidak menawarkan solusi, tidak mencoba menghibur dengan kalimat-kalimat yang terdengar bijak tapi sebenarnya kosong. Dia hanya ada di sana, mendengarkan, dan entah kenapa itu justru terasa seperti bantuan yang paling nyata yang pernah aku terima.
"Ada hal lain yang belum kamu ceritakan," katanya akhirnya, bukan sebagai tuduhan, tapi lebih seperti pernyataan yang memberi ruang.
Aku mengangguk pelan. "Ada."
"Nggak harus sekarang."
"Iya. Tapi mungkin suatu hari."
"Suatu hari," dia mengulang, seperti persetujuan.
Rendra yang mengusulkan itu.
Bukan dengan cara yang memaksa — dia tidak pernah memaksa apapun. Suatu pagi dia hanya bilang, sambil makan pisang goreng buatan Pak Hadi, "Kamu pernah kepikiran buat nyarinya?"
Aku tahu yang dia maksud. Aku sudah cerita semuanya malam sebelumnya — tentang kardus mie instan, tentang namaku yang diberikan bukan saat lahir tapi saat ditemukan, tentang pertanyaan yang selama ini aku kubur karena merasa tidak berhak mengajukannya.
"Pernah," jawabku. "Tapi aku takut."
"Takut ketemu atau takut nggak ketemu?"
Dua-duanya, pikirku. Tapi yang lebih aku takuti adalah ketemu dan ternyata jawabannya menyakitkan.
"Aku temenin," katanya.
Sederhana. Tidak ada syarat, tidak ada tanda tanya di belakangnya.
Kami berangkat seminggu kemudian. Rendra membantu menelusuri dokumen yang bisa ditelusuri, mengantar dari satu alamat ke alamat lain, duduk menunggu di luar kalau aku perlu masuk sendiri, ada di sana kalau aku keluar dengan muka yang perlu dilihat oleh seseorang tanpa harus dijelaskan.
Lalu suatu hari, di satu titik perjalanan itu, aku berbalik dan Rendra tidak ada.
Tasnya tidak ada. Tidak ada pesan. Hanya selembar kertas di meja kamar penginapan yang kami bagi — tulisan tangannya rapi tapi tidak formal.
"Mungkin kita tidak akan ketemu lagi dalam waktu dekat. Tapi aku harap kamu bisa menyelesaikan semuanya — semua yang belum selesai di hidupmu. Kalau sudah, hubungi aku. Kita ketemu di tempat terindah yang kamu mau. Apapun itu, aku akan di sana."
Aku baca tiga kali. Lalu melipatnya dan menyimpannya di dalam dompet, di belakang foto wisudaku yang terasa dari kehidupan orang lain.
ARC 4 -- IBU
Ibuku lebih muda dari yang aku bayangkan.
Atau mungkin hidupnya yang membuatnya terlihat lebih tua dari seharusnya — garis halus di sekitar matanya, cara dia berdiri di ambang pintu rumah kontrakan kecil itu seolah sudah terbiasa bersiap menghadapi hal yang tidak diinginkan.
Tapi yang pertama aku perhatikan adalah tangannya.
Tanganku persis seperti tangannya.
Kami duduk di ruang tamu yang furniturnya tidak banyak. Beliau menyeduhkan teh tanpa aku minta. Lalu kami bicara — atau lebih tepatnya, aku bicara dan beliau mendengarkan dengan mata yang kadang tergenang tapi tidak pernah benar-benar menangis, seperti orang yang sudah lama belajar menahan.
Nama ayahku, katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar, adalah Adi.
Ruangan itu terasa seperti berputar.
Pak Adi. Ayah tiriku. Laki-laki yang sudah dua puluh sekian tahun tinggal di rumah yang sama denganku, makan di meja yang sama, sesekali mengelus kepalaku waktu aku kecil — adalah ayah kandungku.
Beliau tidak tahu, kata ibuku. Atau mungkin beliau tahu tapi memilih tidak tahu. Beliau sudah punya keluarga. Sudah punya istri dan anak laki-laki. Dan ibuku, perempuan muda yang jatuh cinta pada orang yang salah di waktu yang salah, akhirnya memilih pergi dan meninggalkan bayi yang tidak bisa dia rawat — bukan karena tidak sayang, tapi karena sayang dengan caranya yang terbatas dan menyakitkan itu.
Aku mendengarkan semuanya tanpa memotong.
Ketika beliau selesai, aku mencoba menghubungi nomor rumah. Nomor Mama Hana. Nomor Deva. Tapi semuanya tidak tersambung — diblokir, mungkin, atau mungkin mereka memang tidak ingin dihubungi oleh seseorang yang sudah bersumpah pergi.
Aku ingin tinggal di sini. Dengan ibuku. Setidaknya untuk sementara.
Tapi keluarga suami ibuku berbicara dengan cara yang tidak perlu keras untuk menyakiti — cukup diam di sudut ruangan, memandang dengan tatapan yang menghitung biaya kehadiranku. Dan ibuku, pada suatu malam yang tenang, duduk di sebelahku dan berkata dengan lembut sekali, terlalu lembut untuk sebuah penolakan:
"Kamu harus pergi, Rana. Bukan karena Ibu nggak mau kamu di sini. Tapi karena di sini bukan tempat terbaikmu."
Aku mengangguk.
Karena apa lagi yang bisa aku lakukan selain mengangguk.
ARC 5 -- Jalan yang Tak Berujung
Aku pergi lagi.
Kali ini tanpa Rendra, tanpa tujuan yang jelas, tanpa seseorang yang menungguku di mana pun. Aku naik bus, turun di kota yang namanya aku pilih secara random dari peta, makan di warung pinggir jalan, tidur di penginapan yang murah tapi bersih.
Hari-hari terasa seperti air — tidak berbenturan dengan apa pun, hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Setiap malam Jumat, aku mengirim pesan ke Rendra. Kadang cuma satu kalimat. Kadang panjang. Kadang aku cerita tentang warung soto yang enak tapi kursinya patah satu. Kadang tentang seorang ibu di bus yang menidurkan bayinya dengan cara mengayun-ayunkan tubuh sendiri, dan aku menonton itu terlalu lama sampai si ibu tersenyum kikuk.
Rendra tidak pernah membalas.
Tapi aku terus mengirim. Karena terasa seperti menulis di buku harian yang punya nama.
ARC 6 -- Pulang
Jakarta menyambutku dengan macet dan udara yang terlalu kenal.
Aku datang ke rumah Pak Adi bukan untuk tinggal. Aku datang karena ada satu hal yang perlu diselesaikan — sesuatu yang tidak bisa dibiarkan tergantung begitu saja di udara.
Pak Adi membuka pintu sendiri. Wajahnya berubah dalam satu detik ketika melihatku — bukan kaget, tapi seperti orang yang sudah menunggu sesuatu yang dia tahu pasti datang tapi berharap bisa ditunda lebih lama.
"Rana..."
"Aku mau bicara. Dengan Bapak. Dengan Mama Hana. Dengan Kak Deva. Semuanya."
Kami duduk di ruang keluarga yang furniturnya belum berubah. Mama Hana memegang cangkir teh yang tidak dia minum. Deva berdiri di dekat pintu, sedikit ke belakang, dengan ekspresi yang sudah disiapkan untuk menolak.
Aku bicara dengan tenang. Tidak berteriak, tidak menangis — bukan karena aku tidak punya alasan untuk itu, tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk drama. Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu. Tentang ibuku. Tentang nama yang disebut ibuku. Tentang tangan yang sama persis.
Pak Adi tidak menyangkal.
Beliau hanya duduk dengan punggung yang semakin membungkuk setiap detiknya. Beberapa tahun terakhir, kata beliau akhirnya, beliau sudah mengetahuinya. Sudah mengetahui bahwa anak yang ditemukan di depan pintu itu adalah darah dagingnya sendiri. Tapi beliau diam karena perusahaan sedang dalam masa sulit, karena skandal bisa menghancurkan segalanya, karena —
Karena banyak alasan yang terdengar masuk akal dari sudut pandang seseorang yang tidak pernah tidur di dalam kardus.
Mama Hana menangis. Deva keluar ruangan tanpa bicara.
Dan Mama Hana — perempuan yang dua puluh sekian tahun lalu mengangkatku, memberi nama, menyekolahkan, merawat meski tidak pernah dengan cara yang hangat — meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Aku tetap menyayangimu," katanya. Suaranya retak di tepi.
Aku percaya itu. Sungguh.
Tapi ada hal yang aku sadari dalam keheningan ruangan itu: kehadiranku di sini bukan jawaban untuk siapa pun. Bukan untuk Mama Hana yang harus menelan kenyataan ini di usia pernikahannya yang sudah panjang. Bukan untuk Deva yang kebenciannya mungkin punya akar yang bahkan dia sendiri tidak mengerti. Bukan untuk Pak Adi yang tampaknya baru belajar bahwa menanggung rasa bersalah dalam diam tidak sama dengan tidak bersalah.
Dan bukan untuk aku.
Aku melepaskan tangan Mama Hana dengan pelan.
"Aku pergi," kataku. "Bukan karena marah. Tapi karena ini memang bukan tempatku."
ARC 7 -- Setelah Segalanya
Aku duduk di trotoar di luar minimarket yang masih buka.
Tidak tahu harus ke mana. Tidak tahu harus menghubungi siapa. Perasaanku seperti kamar yang baru habis diobrak-abrik — semua isinya berserakan di lantai dan aku tidak punya energi untuk mulai membereskan mana yang mau disimpan, mana yang mau dibuang.
Aku membuka aplikasi pesan. Scroll ke atas nama Rendra yang sudah penuh dengan pesan-pesanku yang tidak pernah terbalas.
Lalu aku ketik, dengan jari yang sedikit gemetar:
"Ren. Aku lagi nggak baik-baik aja."
Aku kirim. Lalu menatap layar dengan ekspektasi nol.
Tapi tiga menit kemudian — tiga menit yang terasa tidak nyata — muncul satu centang biru. Lalu dua. Lalu tulisan itu:
"Di mana kamu sekarang?"
Rendra datang dengan dua gelas kopi dari warung yang entah di mana dia beli, dan kita duduk di atap sebuah gedung tua yang ternyata milik temannya. Jakarta dari atas terlihat seperti sirkuit elektronik — ribuan titik cahaya yang semuanya menyala untuk keperluan masing-masing.
Aku cerita semuanya.
Dari awal sampai tadi malam. Tidak berurutan, tidak rapi — seperti orang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu dan akhirnya membuka semuanya sekaligus. Dan di tengah cerita itu, tanpa aku rencanakan, aku menangis.
Bukan menangis yang cantik seperti di film. Tapi menangis yang betul-betul menangis — bahu berguncang, napas tidak teratur, suara yang keluar lebih mirip orang kelelahan daripada orang sedih.
Rendra tidak bilang apa-apa. Dia tidak menepuk punggungku dengan cara yang kaku, tidak mencari kata-kata yang tepat. Dia hanya membiarkan aku menyandarkan kepala di bahunya, dan tetap di sana, dan itu cukup.
Setelah semuanya mereda, dia bertanya pelan:
"Apakah ini tempat terindah yang kau impikan?"
Aku mengangkat kepala. Menatap langit yang, dari tengah kota, hanya kelihatan beberapa bintang saja — sisanya kalah dengan polusi cahaya. Tapi beberapa itu ada.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu bingung," katanya, "karena kepalamu masih kacau. Itu wajar."
Dia merogoh saku, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pena.
"Coba tulis," katanya. "Satu halaman. Hari ini. Apa yang kamu rasakan. Tidak harus bagus, tidak harus masuk akal. Cukup jujur."
"Untuk apa?"
"Untuk kamu sendiri. Bukan untuk siapa pun."
Lalu dia bilang bahwa setiap Jumat malam, kita bisa ketemu di sini atau di mana pun. Cukup duduk, cerita, atau diam. Tidak perlu agenda.
Aku mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, aku merasa seperti ada satu hal kecil yang bisa dipegang.
ARC 8 -- Hilang
Bulan pertama, Rendra selalu datang.
Kami bertemu setiap Jumat malam di atap yang sama, dengan kopi yang kadang berganti jenis tapi tetap dari warung. Aku membawa buku catatanku. Aku bacakan beberapa hal — tidak semua, hanya yang aku rasa sudah cukup siap dikeluarkan dari kepala dan diucapkan ke udara.
Rendra mendengarkan. Sesekali merespons. Lebih sering hanya diam dengan cara yang tidak terasa seperti kekosongan, tapi seperti ruang yang sengaja dikosongkan untukku.
Bulan kedua, dia masih datang — tapi kadang terlambat, kadang tidak bisa lama.
Bulan ketiga, dia datang dua kali dari empat Jumat.
Lalu bulan keempat, dia tidak datang sama sekali.
Aku tetap pergi ke atap itu. Duduk sendiri. Minum kopi sendiri. Menulis di buku catatan dan mengirim pesan ke Rendra, cerita tentang hal-hal kecil yang terjadi minggu itu. Warung baru yang buka di dekat kos. Kucing yang masuk lewat jendela dan tidur di atas laptopku. Buku yang aku baca dan satu kalimatnya terasa seperti dituliskan untuk aku baca hari itu.
Rendra tidak membalas.
Tapi aku tidak berhenti mengirim. Karena entah kenapa, menulisnya saja sudah membuat sesuatu di dalam dada sedikit longgar.
Setahun berlalu seperti itu. Tidak dramatis. Tidak ada momen tunggal di mana aku tiba-tiba sembuh. Hanya hari-hari yang datang dan pergi, luka yang perlahan kehilangan ketajamannya seperti pisau yang tidak pernah diasah — masih ada, tapi tidak lagi memotong dengan cara yang sama.
Suatu Jumat malam, aku duduk sendirian di atap itu, menatap bintang-bintang yang masih kalah jumlah dengan lampu kota dan aku menyadari sesuatu.
Aku baik-baik saja.
Bukan bahagia sempurna. Bukan tanpa bekas. Tapi baik-baik saja yang artinya aku bisa bernapas, bisa makan, bisa tertawa karena sesuatu yang memang lucu, bisa sedih tanpa takut tenggelam.
Aku membuka buku catatan, menulis di halaman terakhir yang tersisa:
Aku memaafkan ibuku. Perempuan dengan tangan yang sama sepertiku, yang memilih dengan apa yang dia punya di waktu yang tidak mengizinkan pilihan yang baik.
Aku memaafkan ayahku. Laki-laki yang terlambat tahu dan lebih terlambat lagi untuk berani.
Aku memaafkan Kak Deva. Yang mungkin selama ini juga takut kehilangan sesuatu yang dia sendiri tidak yakin pernah dia miliki.
Aku memaafkan Mama Hana. Yang menyayangiku dengan cara yang tidak sempurna tapi nyata.
Dan aku memaafkan diriku sendiri. Karena sudah terlalu lama berpikir bahwa kehadiranku di dunia ini butuh pembenaran.
Lalu aku ambil ponsel dan mengirim pesan ke Rendra:
"Ren. Aku sudah lega. Aku mau ke tempat terindah yang kamu janjikan. Di mana?"
Kali ini, jawabannya datang lebih cepat. Sebuah lokasi. Satu kata:
"Sumba."
ARC 9 -- Sumba
Aku tiba sore hari.
Langit Sumba berwarna yang tidak bisa aku deskripsikan dengan tepat, ada campuran oranye dan merah muda dan sesuatu yang lebih tua dari itu, seperti warna yang sudah ada sebelum manusia punya nama untuknya.
Pantainya... aku mengerti sekarang kenapa Rendra memilih tempat ini. Ada sesuatu di sini yang terasa tidak terburu-buru. Lautnya tidak mencoba meyakinkanmu tentang apa pun. Dia hanya ada.
Aku mengikuti koordinat yang Rendra kirimkan. Melewati pasir, melewati beberapa pohon kelapa, dan koordinat itu membawa aku bukan ke pantai terbuka — tapi ke arah sebuah resort kecil yang dari kejauhan terdengar seperti ada musik.
Aku memperlambat langkah.
Ada dekorasi bunga di sepanjang jalan setapak. Tamu-tamu berpakaian rapi. Seorang fotografer berjalan dengan kamera besar di tangan.
Pernikahan.
Aku berdiri di luar, melihat dari celah antara dua tiang bambu yang dililit bunga putih. Seorang laki-laki berdiri di depan, membelakangi, mengenakan kemeja putih yang sederhana tapi pas — postur tubuhnya, cara dia berdiri dengan bahu yang tidak pernah terlihat tegang —
Rendra.
Aku tidak bergerak cukup lama sampai seorang pelayan hampir menabrakku dengan nampan minuman.
Rendra menikah.
Di tempat terindah yang dia janjikan, di hari yang dia pilih untuk mengundangku datang, dia menikah.
Aku mundur perlahan. Duduk di atas batu di tepi jalan setapak, menatap laut yang dari sini masih kelihatan — biru dan tenang dan tidak peduli dengan apapun yang sedang terjadi di dadaku.
Aneh. Aku menunggu rasa sakit yang hebat. Menunggu sesuatu yang besar dan menghancurkan datang.
Tapi yang datang hanya rasa... sepi yang biasa. Yang sudah lama aku kenal. Yang sudah aku pelajari cara duduk bersamanya tanpa harus langsung melarikan diri.
Rendra pernah bilang — apapun yang kamu mau.
Mungkin dia memang tidak pernah menjanjikan dirinya. Hanya sebuah tempat. Sebuah alasan untuk pergi, untuk sampai di sini, untuk berdiri di ujung pulau ini dengan luka yang sudah tidak setajam dulu.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Aku membuka buku catatan untuk terakhir kalinya. Menulis satu kalimat di halaman belakang yang sudah kosong:
Mungkin Rendra bukan orang yang ditakdirkan bersamaku. Mungkin dia hanya kisah perjalanan — yang dikirimkan ke hidupku bukan untuk tinggal, tapi untuk menunjukkan bahwa aku bisa.
Angin dari laut menyentuh wajahku.
Di kejauhan, tamu-tamu tepuk tangan.
Dan aku, Rana yang ditemukan dalam kardus di depan pintu orang lain yang sudah berjalan terlalu jauh untuk bisa berpura-pura tidak berubah, duduk di tepi pantai Sumba, telah menemukan seseorang setelah ratusan kilometer perjalanan panjang, diriku sendiri.
POV Rendra (short)
Dia tidak tahu bahwa aku membaca setiap pesannya.
Semua yang dia kirim setiap Jumat malam, tentang kucing yang masuk lewat jendela, tentang kalimat di buku yang terasa seperti ditulis untuknya, tentang soto yang enak tapi kursinya patah — aku baca semuanya, kadang berulang kali, di sela-sela hari yang semakin padat dan semakin jauh dari atap kecil itu. Aku tidak membalas bukan karena tidak peduli. Justru sebaliknya. Ada titik di mana aku sadar bahwa kalau aku terus hadir, dia tidak akan pernah belajar bahwa dia bisa baik-baik saja tanpa seseorang yang datang setiap Jumat malam membawakan kopi.
Rana adalah orang yang sudah terlalu lama bergantung pada keberadaan orang lain untuk membuktikan bahwa dia berhak ada dan aku tidak mau jadi versi lain dari ketergantungan itu.
Yang paling aku ingat dari Rana bukan saat dia menangis di bahuku, meskipun momen itu tidak akan mudah aku lupakan. Yang paling aku ingat adalah cara dia menulis. Kepala sedikit menunduk, pena bergerak tanpa berhenti, seperti takut kalau berhenti sebentar saja semuanya akan hilang sebelum sempat tercatat. Aku pernah diam-diam melirik halaman catatannya dan tidak membaca isinya, tapi melihat tekanan penanya — dalam di beberapa bagian, hampir tidak meninggalkan bekas di bagian lain. Itu lebih banyak bercerita dari kata-kata mana pun. Dia sedang belajar, pikirku waktu itu. Belajar mana yang perlu dipegang dan mana yang boleh dilepaskan. Dan orang yang sedang belajar hal sepenting itu tidak butuh seseorang yang menemaninya sampai akhir — dia butuh seseorang yang tahu kapan harus mundur agar dia bisa menyelesaikannya sendiri.
Hari ini aku menikah. Di tempat yang sudah lama aku rencanakan, di pantai yang pertama kali aku lihat dalam foto dan langsung tahu bahwa ini adalah tempat yang tepat. Bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk dia. Untuk Rana yang sudah menempuh perjalanan yang tidak mudah dan pantas berdiri di tepi laut yang seindah ini, meski bukan di sebelahku. Aku mengundangnya bukan untuk menyakitinya. Aku mengundangnya karena aku percaya bahwa dia sudah cukup kuat untuk sampai ke sini, sendirian, dan berdiri di ujung pantai itu tanpa hancur. Dan kalau aku benar, kalau Rana yang sekarang memang sudah menjadi Rana yang bisa berdiri tanpa perlu berpegangan — maka itu adalah hal paling baik yang pernah aku ikut ambil bagian di dalamnya, meski hanya dari pinggir, meski hanya sebentar, meski hanya sebagai seseorang yang singgah di kisah hidupnya dan kemudian pergi.