Beneath the Cottage in Pumpkin Shore
Aku meninggal empat kali dalam minggu ini.
Pertama saat hamsterku, Jahe, mati tanpa alasan yang jelas.
Kedua saat esoknya aku melihat pengumuman interview kerja dan ternyata aku
gagal. Ketiga saat Ibu dengan seenaknya memberikan gundam milikku ke sepupuku yang
masih anak-anak tanpa izin dan gundam itu pun rusak. Keempat saat di hari sabtu
yang cerah, bapak tertabrak mobil dan harus kehilangan kaki kanannya.
Semua terasa sangat cepat dalam satu minggu. Aku bahkan
belum bisa mencerna apa saja yang telah terjadi. Memahami saja aku belum mampu,
apalagi mengikhlaskan semua yang telah pergi.
Dinginnya rumah sakit yang
menusuk berhasil membuat mataku perlahan menutup. Entah sudah berapa jam aku
menunggu Bapak untuk keluar dari ruang operasi. Ibu dan adikku masih menangis
tersedu-sedu sambil berdoa kepada Tuhan, sementara diriku rasanya ingin meninggal
lagi karena aku pun tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi esok.
TIKET KERETA API
Relasi: Kota X – Yogyakarta
Tanggal Keberangkatan: Hari ini
Gerbong: 4
Nomor Kursi: 13B
Semenjak Bapak kehilangan kakinya saat itu pula Bapak harus
di-rumah-kan. Dua bulan ini kami hidup dari pesangon yang diberikan oleh
perusahaan tempat Bapak bekerja yang semakin lama semakin menipis, belum lagi
adikku akan menginjakkan bangku kuliah tahun depan. Mungkin ini sinyal dari
Tuhan bahwa aku harus tetap ‘hidup’ meskipun keadaan mendorongku untuk mati.
Minggu lalu seorang teman datang ke rumah, dia baru saja
pulang ke Jawa karena dia sendiri merantau di Kalimantan. Kedatangannya cukup
membuat terkejut karena awalnya kita tidak terlalu dekat bahkan terakhir
bertemu saat perpisahan SMA di villa yang kami sewa di Kota Bogor. Namun,
kedatangannya cukup membuatku senang karena diantara teman-temanku yang tahu
musibah yang sedang ku alami, hanya dia yang datang untuk menjenguk Bapak.
Aku pikir kedatangannya hanya untuk menjenguk Bapak atau
basa-basi denganku, tapi hingga akhirnya aku berada disini karena dia.
Mengetahui aku yang masih menganggur dan hanya mengandalkan pemasukan dari
kerja serabutan yang sangat tidak pasti, dia membawa secercah harapan bagiku
dan keluargaku.
“Kau sendiri kerja apa sekarang?” Tanya temanku, Darma, saat
melihatku hanya duduk di rumah dihari rabu.
“Aku cuma freelance. Apa saja aku kerjakan selagi halal.”
“Kau memangnya lulusan apa? Barangkali aku ada lowongan.”
“Pariwisata. Susah sekarang cari kerja.”
“Hoo pariwisata ya…” Darma hanya mengangguk dan terdiam.
Dibanding Darma, aku memang bukan apa-apa. Dia lulusan universitas ternama
bahkan saat ini dia bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan.
“Aku ada kenalan, beliau punya usaha hotel kecil di Jogja.
Kau mau?” Katanya setelah beberapa menit ku perhatikan dia membuka
handphone-nya.
“Kerjanya apa?” Awalnya aku sudah sangat senang berharap
bahwa ini adalah jawaban dari Tuhan untuk semua doaku selama ini. Namun,
dizaman ini pekerjaan yang tidak jelas arahnya juga mengerikan. Bagaimana jika
ternyata itu perdagangan manusia atau saat tiba di Jogja aku akan dikirim ke
negara lain untuk menjadi bandar judi.
“Hm… sedikit melenceng dari pariwisata, jadi housekeeper. Bagaimana?”
“Aku boleh lihat hotelnya?” ku lihat hotel milik kenalan
Darma. Letaknya pas dipinggir pantai dan melihat dari ukurannya tempat ini tidak
cocok disebut hotel.
“Ini beneran hotel?” tanyaku karena mungkin tempat ini hanya
memiliki lima kamar.
“Beliau bilang ini ‘hotel
tumbuh’ saat ini memang hanya punya enam kamar tapi beliau berencana membeli
tanah disebelahnya untuk memperbesar area hotel. Memang saat ini juga namanya
belum ‘hotel’ tapi ‘Pondok Labu’.”
Tanpa sadar aku sudah sampai di Jogja. Kaki ku kesemutan
karena duduk lebih dari 8 jam dan tanganku sulit ku gerakkan karena ku gunakan
untuk menahan daguku sedari awal. Setibanya di Stasiun Lempuyangan, Ibu
menelpon dan menanyakan kondisiku. Selama ini fisikku memang baik bahkan aku
masih sempat berjalan kaki untuk mengantar pesanan ibu ke kelurahan sebelah.
Tapi, jangan tanyakan bagaimana jiwaku sekarang.
Setelah menjawab telpon Ibu, aku mulai menghubungi Darma.
Beberapa kali ku coba telpon namun dia tidak membalas mungkin karena dia sudah
berada di tambang dan susah sinyal. Setidaknya kemarin dia mengirimku pesan
perihal kedatanganku di Jogja.
“Ndra, ini aku Darma. Maaf baru sempat menghubungi lagi
soalnya aku sudah di Kalimantan dan besok balik ke tambang. Langsung saja,
besok waktu kau sudah sampai Jogja, langsung pesan taksi terserah apa saja yang
ada dengan tujuan ke Pantai Labu. Orang-orang sana sudah tahu kok. Sesampainya
disana kau cari tukang parkir pantai atau penjual siapa saja yang bisa kau
tanya soal Pondok Labu. Kau minta tolong untuk diarahkan sampai pondok itu ya.
Pemiliknya Pak Hasan dan aku sudah bilang tentang kau, aku juga titip salam ke
beliau ya. Hati-hati.”
Karena penjelasan Darma cukup jelas, tanpa berlama-lama aku
menyewa taksi disekitar stasiun. Orang-orang berlalu-lalang menikmati keindahan
dan kuliner Jogja dengan tenang, sementara aku hanya duduk di bangku belakang
taksi, menatap keluar jendela yang mulai basah oleh rintik hujan. Lampu kota
dan gerobak angkringan tampak berpendar di genangan aspal, menciptakan bayangan
yang seolah menari. Aku membayangkan bagaimana hidup di Jogja, ini pertama
kalinya aku jauh dari Bapak dan Ibu. Semoga Pak Hasan orang yang baik dan
Pondok Labu benar-benar menjadi secercah cahaya bagi keluargaku.
“Mas, mau ke Pondok Labu, ya.” Bapak sopir taksi yang sedari
tadi diam tiba-tiba membuka suara.
“Eh, iya pak.” Aku yang sedari tadi melamun cukup kaget
karena suara sopir ini lumayan keras dan mencekam.
“Liburan ta mas?” Tanyanya dengan nada datar dan keras.
“Nggih, pak.” Aku bukan orang Jawa namun karena aku
berkuliah di Surabaya jadi aku cukup fasih berbahasa Jawa. Sepertinya benar apa
kata Darma bahwa tempat itu cukup terkenal meskipun kecil.
Aku melihat handphone-ku yang masih memunculkan aplikasi
driver online. Perjalanan masih lama dan jauh, lebih baik aku tidur hingga
sampai di Pantai Labu.
Tunggu.
“Pak, kok tahu saya mau ke Pondok Labu? Padahal saya
pesannya ke Pantai Labu.” Aku baru ingat bahwa tujuan ku dari awal adalah
Pantai Labu bukan Pondok Labu.
“Pondok Labu itu sudah terkenal banget mas disana.”
Oh ya? Bukannya tempat itu baru buka beberapa bulan ini,
batinku.
Sudah ku duga, aku benar-benar terlelap selama perjalanan.
Kurang lebih dua jam total perjalanan ini. Sesampainya di Pantai Labu, hari
sudah malam dan yang membuatku terkejut adalah sopir taksi ini berhenti tepat
didepan Pondok Labu.
“Terima kasih, pak.”
Setelah taksi itu pergi, aku melihat sekitar. Disini
benar-benar sepi, memang di kanan-kiri Pondok Labu ini banyak restoran seafood
dan beberapa toko souvenir, tapi tampak seperti tidak ada kehidupan disini.
Baru satu langkah menuju pintu masuk, aku membaca plakat besar
yang diletakkan diatas pintu.
“Pondok Kenanga”
Sejenak aku terdiam dan berpikir, “apa aku salah tempat?”
Karena hari sudah malam dan tubuhku sudah lelah, langkahku
mendorong untuk memasuki Pondok Kenanga ini. Tepat saat gagang pintu kupegang,
seseorang memanggilku dari jalan menuju Pantai Labu.
“Mas, mas, Mas Rendra, nggih?” Seorang bapak-bapak paruh
baya berjalan dengan nafas tersenggal-senggal ke arah ku. Ku hampiri beliau,
karena pencahayaan disini tidak terlalu baik, aku tidak begitu jelas melihat
wajah beliau dari kejauhan.
“Mas Rendra?” Setelah bapak itu mendekat, aku baru bisa
melihat wajahnya. Bapak-bapak usia 50 tahunan dengan jenggot yang memutih dan
pakaian sederhana. Apakah ini Pak Hasan?
“Saya Hardi, pekerja disini.”
Dengan ramah Pak Hardi membantuku membawa beberapa barang
bawaanku menuju kamar yang akan ku tempati selama bekerja disini.
“Pak, sebentar, saya seharusnya bekerja di Pondok Labu bukan
di Pondok Kenanga.” Aku menghentikan langkah Pak Hardi dan berusaha memastikan
bahwa aku tidak salah tempat.
“Ini dulu namanya Pondok Labu, tapi kemarin baru ganti nama
jadi Pondok Kenanga.”
“Tapi pemiliknya Pak Hasan, ‘kan?”
"Nggih, nak. Pak Hasan itu kakak saya."
"Oh, hehe, iya pak."
Apa Pak Hasan tidak ada disini? Seharusnya aku kan bertemu beliau dan bukan adiknya atau orang lain. Tapi mungkin Pak Hardi sudah diamanahi oleh kakaknya untuk bertemu denganku, batinku dalam hati dan berusaha untuk berpikir positif.
Sesampainya di kamarku yang berada di lantai tiga bangunan ini, Pak Hardi menoleh sambil berkata, “Cepat mandi, ya. Nanti turun ke bawah buat makan malam bareng karyawan yang lain. Sekalian kenalan juga.” Ucapannya terdengar ringan, tapi ada nada tanggung jawab yang tak bisa kuabaikan. Katanya, semua karyawan tinggal di lantai ini dan benar saja, dari lorong sempit yang barusan kulewati, aku menghitung ada empat pintu kamar berjajar rapi. Artinya, termasuk aku, akan ada empat orang yang berbagi atap di lantai ini.
Tubuhku yang lelah, nyaris tanpa perintah, langsung menjatuhkan diri ke atas kasur. Biasanya, aku cukup disiplin untuk tidak menyentuh tempat tidur sebelum mandi terutama setelah perjalanan jauh dengan pakaian penuh debu dan keringat. Tapi, hari ini tubuhku seolah mengambil alih seluruh kendali. dan aku membiarkannya. Rasanya seperti sebuah kompromi antara tubuh yang menuntut istirahat dan pikiran yang mulai berisik karena banyaknya hal baru yang harus kupahami.
Dari informasi singkat yang diberikan Darma sebelumnya, aku tahu bahwa tempat ini bukan hotel besar. Lebih mirip sebuah penginapan keluarga, atau pondok sederhana dengan nuansa hangat khas pantai. Di lantai dua ada enam kamar tamu. Lantai satu adalah ruang utama dengan sebuah restoran kecil yang menghadap langsung ke pantai, resepsionis mungil, lobby dengan dua kursi rotan, serta sebuah dapur.
Lamunanku buyar ketika kudengar suara piring bersentuhan dari bawah. Mungkin mereka mulai menyiapkan makan malam. Aku bergegas menuju kamar mandi. Airnya terasa dingin menusuk, khas air tanah di daerah pantai yang belum dijamah banyak pembangunan. Setiap tetesnya membuatku terjaga, dan entah kenapa membuatku semakin sadar bahwa aku benar-benar di tempat yang asing ini jauh dari kebisingan kota, jauh dari segala hal yang selama ini kuanggap akrab.
Selesai mandi, aku kembali berbaring sebentar. Kali ini tubuhku terasa lebih ringan. Kulihat sekeliling kamar dengan lebih detail. Kamar ini sederhana, tapi tidak asal-asalan. Di pojok ruangan ada single bed dengan sprei putih bersih yang belum sepenuhnya kusut. Meja kecil dengan vas berisi bunga plastik berdiri di sebelahnya. Sebuah lemari dua pintu menempel di dinding, dan yang paling aku suka: jendela besar yang langsung menghadap ke arah laut.
Aku berjalan pelan menuju jendela itu, membuka tirainya yang tipis. Dari sini, Pantai Labu terlihat begitu tenang. Cahaya matahari senja memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang hampir seperti serpihan cahaya. Ombak datang bergantian, perlahan, seolah tahu bahwa malam sudah hampir datang dan mereka pun harus beristirahat. Di kejauhan, ada dua perahu nelayan yang bergerak lambat, berlayar pulang, seperti aku yang juga baru saja tiba di tempat ini, mencari tempat pulang yang baru.
Mungkin ini saat yang tepat untuk memperkenalkan Pondok Kenanga kepadamu. Sebuah bangunan tiga lantai dan bernuansa kayu tropis, berdiri tepat di bibir pantai. Bangunannya mungkin tak sempurna, tapi ada ketulusan di setiap sudutnya. Seperti rumah nenek yang tak pernah direnovasi, tapi tetap selalu ingin kau kunjungi kembali. Aku mengambil buku gambar kecil dari tasku. Bisa dibilang aku memang memiliki bakat menggambar sejak kecil meskipun bakat tersebut tidak didukung oleh kedua orang tuaku.
(input gambar) (input denah)
Mungkin ini sedikit yang bisa aku gambarkan padamu mengenai Pondok Kenanga. Aku rasa masih banyak detail yang belum aku lihat dari tempat ini, mungkin esok atau entah kapan karena aku sendiri akan menikmati tempat ini dengan seksama.
Ku baringkan tubuhku di kasur, mataku mulai terasa berat dan sangat berat hingga akhirnya tertutup sempurna. Tunggu, sepertinya ada yang ku lewatkan tapi otakku benar-benar menolak untuk diajak diskusi malam ini. Biarlah, aku harap itu bukan hal penting untuk dilakukan.