Your Name.
“Halo! Ya, sebentar lagi aku sampai,” aku menyenderkan
kepalaku di bangku Trans Jakarta. Sudah pukul 8 malam, entah kenapa aku mau
saja diperbudak anak satu itu. Dari Grand Indonesia pulang ke Cakung, badanku
rasanya remuk. Kenapa Ia tidak mau beli online saja sih!
Aku mulai memejamkan mata perlahan, aku sangat
mengantuk. Semoga saja aku tidak salah turun. Bus juga sudah sangat sepi, hanya
ada beberapa orang disini.
Bus mulai berhenti dan pintu terbuka.
Sebentar lagi, batinku.
Aku menutup kepalaku
dengan hoodie, agar tidak ada yang tahu bahwa aku sedang tidur. Aku mengintip
dibalik hoodie-ku. Seorang laki-laki duduk tepat didepanku. Ia membawa payung,
ah! Tentu saja, sekarang sedang hujan. Aku masih menatap laki-laki itu, hingga
aku tersadar bahwa laki-laki itu adalah kakak tingkatku di kampus. Dan Ia
adalah orang yang selama ini ku nanti.
Bandung,
5 tahun yang lalu.
Seorang gadis duduk menyendiri di kantin, ketika
semua suka keramaian dan penuh canda tawa. Berbeda dengan perempuan satu ini,
Ia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan buku tulis kosong yang Ia gunakan
untuk menuangkan isi pikirannya, pikirannya yang semrawut. Siapa lagi jika
bukan Vanya atau gadis yang bernama lengkap Lavanya Prisha.
“Van, gak ke kelas lu?” seorang teman menghampiriku.
Setelah kulihat jam ditanganku, memang benar 15 menit lagi kelas dimulai. Aku
segera bergegas menuju kelas agar tidak terlambat. Sesampainya di kelas, aku
duduk di tempat paling depan. Aku bukan murid yang teladan, IPK ku juga standar
seperti murid lainnya. Hanya saja, semua bangku belakang dan tengah sudah penuh
dan hanya bangku di barisan depan yang masih kosong. Jadi, apa boleh buat.
Aku menjalani kelas dengan biasa saja. Tidak ada
yang spesial dan tidak ada pula yang buruk. Aku mendengarkan dosen dengan baik,
aku mengerjakan tugas dan skripsi, meminta bimbingan dosen pembimbing, lalu
pulang. Sepertinya hari-hariku akan seperti ini terus. Entah kenapa aku ingin
hiburan, tapi aku tidak mau jalan-jalan ke mall atau nongkrong bersama
mahasiswa lainnya.
“Van, bengong aja,” aku sedang melamun di kantin dan
seseorang membangunkanku dari lamunan. Sepertinya aku harus pulang.
“Ah! Ya, Gua mau pulang,”
“Eh! Gak mau lihat anak band latihan? Rame banget
nih banyak yang pingin nonton,” kenapa aku harus menghabiskan waktuku untuk
melihat hal yang tidak berguna?
“Hmm… ya udah ayo,” aku merapikan barang-barangku
dan pergi mengikuti Dita ke aula. Sebenarnya aku ingin pulang dan tidur, tapi
sepertinya Dita ingin sekali melihat latihan band.
Aula sangat penuh. Aku tidak habis pikir dengan
orang-orang ini. Padahal masih ada hari esok untuk melihat pertunjukkan band,
kenapa harus sekarang dan malah berdesakan. Harusnya aku menolak tawaran Dita
dan pulang.
Dita menarik tanganku menuju pusat keramaian. Ya,
sekarang aku tepat berada didepan panggung. Aku pun bingung kenapa aku bisa
sampai disini, aula sangat ramai dan bagaimana cara Dita membawaku kemari.
Sekelilingku sangat ramai, semua berdiri dan menikmati lantunan lagu yang
dibawakan band ini, semuanya menggerakkan tubuh mereka. Kecuali aku. Yang hanya
diam karena tidak tahu ini lagu apa dan lebih memilih menunduk karena lampu
penyinaran yang terlalu terang membuat mataku sakit.
Tiba-tiba, lampu yang bersinar terang mulai temaram.
Musik yang awalnya penuh dengan suara drum dan gitar elektrik, tiba-tiba
berganti dengan suara gitar akustik serta piano. Berapa banyak genre lagu yang
bisa mereka bawakan?
Aku mendongak dan melihat keadaan panggung. Sepertinya
ada pergantian pemain. 2 orang sudah siap dengan piano dan cello. Musik mulai
dimainkan. Aku terbelalak kaget, salah satu lagu favoritku dimainkan oleh
mereka. Nada demi nada dimainkan, laki-laki yang mengenakan hoodie biru itu mulai
bernyanyi. Ia sangat fokus, sesekali Ia melirik ke arah penonton dan tersenyum.
Diantara banyaknya
manusia memenuhi tempat ini. Aku mulai terdesak mundur, hanya ada satu cela
yang menyelamatkanku. Satu cela yang cukup untuk melihatnya memainkan piano
dengan khusyuk. Seseorang yang bahkan aku tak pernah melihat wajahnya, siapa
dia? Bahkan namanya pun tak terbesit dipikiranku.
Pertunjukkan sudah selesai. Aku pulang ke rumah,
sebelum pulang aku membeli air mineral dan bergegas mencari angkot disekitar
kampus. Sudah pukul 5 sore dan angkutan ini sepi. Aku memutar lagu lewat
earphone yang sudah tersambung ke handphone ku. Karena sepi, aku menyanyikan
lagu yang ku dengar dengan pelan. Sepelan mungkin.
Aku mendengar seseorang disebelahku bernyanyi.
Volume lagu yang ku putar, ku kecilkan. Agar aku tahu apa yang Ia nyanyikan.
Laki-laki itu bernyanyi lagu yang sama dengan yang ku dengarkan. Aku melirik ke
arahnya. Dia melirik kearahku. Laki-laki itu, laki-laki yang tadi bernyanyi
diatas panggung. Yang menyanyikan lagu favoritku.
Aku membuang muka saat Ia melirikku balik. Mungkin
suaraku terlalu keras. Malu sekali rasanya, suaranya sangat merdu sementara
suaraku mungkin hancur.
“Kau menyukai lagu itu?” laki-laki itu bertanya
padaku. Mungkin aku sedang berhalusinasi.
“Ti-tidak terlalu,” aku hanya bisa menjawabnya cepat
dan langsung membuang muka.
“Aku pikir orang-orang tidak ada yang menyukai lagu
seperti ini,” dia berbicara sendiri?
“Kau penyanyi opera?” hahaha… pertanyaan macam apa
itu. Aku tertawa saat Ia mengatakan hal itu. Apa gara-gara aku menyanyikan lagu
Mozart berarti aku adalah penyanyi opera.
“Tidak, aku hanya menyukai lagunya,”
“Oh, begitu… kiri bang,” Ia akan turun rupanya.
“Duluan ya… sampai bertemu lagi,” Ia melambaikan
tangan dan tersenyum padaku. Aku memandangi daerah sekitar. Di daerah sini ternyata.
Disaat itulah, aku
menemukan seseorang yang menyukai sesuatu yang sama denganku.
Satu minggu setelah ada keramaian di aula. Setelah
hari itu, aku tidak bertemu dengannya lagi. Lagi pula aku juga tidak ada perlu
dengannya. Tidak bertemu dengannya sehari saja tidak akan membuatku mati.
Aku mengelilingi perpustakaan pagi ini. Kelas dimulai
pukul 10, sementara aku sudah ada di kampus pukul 8. Aku mencari referensi di
perpustakaan, sembari menunggu kelas. Aku memilih beberapa jurnal yang ada di
rak, aku juga masih bingung mana jurnal yang harus ku baca terlebih dahulu. Setelah aku memilih beberapa jurnal dan buku,
aku kembali duduk.
Aku mulai membaca satu jurnal dan satu buku.
Hari-hari mendekati kelulusan benar-benar menguras waktuku. Minggu besok aku
harus pergi ke suatu perusahaan untuk wawancara. Di sela-sela membaca, aku
berhenti sejenak. Menyenderkan badanku di kursi dan menutup mata.
“Huh… kenapa hari ini sangat berat?”
“Tidak ada hari yang berat, jika kau melakukannya
dengan ikhlas,” aku membuka mata. Sangat terkejut ketika ada seseorang yang
menanggapi ucapanku, padahal aku sedang berbicara pada diriku sendiri.
“Rajin sekali membaca banyak buku dan jurnal. Buat
skripsi?” apa katanya? Aku rajin? Aku hanya mengangguk cepat. Ia laki-laki itu,
laki-laki yang menyukai sesuatu yang sama denganku. Dia mengambil salah satu
jurnalku dan mulai membacanya.
“Oh, Kau anak bisnis?” lagi-lagi aku hanya
mengangguk cepat.
“Aku juga sedang mengerjakan skripsi. Bedanya, aku
anak arsi hehe,” lalu? Padahal aku tidak bertanya padanya, bahkan mengatakan
satu dua kata pun tidak.
Ia meletakkan jurnalku kembali dan melihat
handphone-nya. Ia mulai sibuk dengan handphone-nya bahkan terlihat sangat
serius. Aku masih berpikir, mengapa Ia mengatakanku rajin. Apa karena jurnal
dan buku yang tertumpuk didepanku? Atau karena masih pagi sudah ada di
perpustakaan?
“Aku duluan ya. Sebentar lagi ada kelas, see you,”
dia melambaikan tangannya padaku dan aku pun secara spontan membalas
lambaiannya.
“Oh ya, jangan patah semangat ya… meskipun hari ini
berat, yakinlah bahwa esok akan lebih baik dari hari ini, OK! Jadi… semangat
mengerjakan skripsinya! Aku tunggu di wisuda nanti!” bahkan orang yang aku
tidak kenal sekalipun memberiku semangat, seolah kita sudah kenal satu sama
lain. Tapi, setidaknya aku senang karena ada satu orang yang memberiku semangat
dikala aku sedang lelah.
Tanpa sadar aku tersenyum. Aneh mungkin karena ini
baru pertama kalinya. Bahkan teman-temanku tidak ada yang menyemangatiku sampai
begitu, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Sudah pukul 9, lebih baik aku segera menuju kelas.
Lagi-lagi, aku bertemu
seseorang yang sama dan anehnya orang itu memberiku semangat yang bahkan tidak
pernah ku dapatkan dari manusia di Bumi.
Di hari-hari kesibukan ini. Aku sering bertemu
dengannya di perpustakaan dan sesekali di mini market dekat kampus. Meski
sering bertemu, kami tidak terlalu banyak menghabiskan suara. Ia yang selalu
mencairkan suasana, berbeda denganku yang menanggapinya hanya dengan anggukan
atau kata-kata singkat.
Setiap bertemu, kita selalu membicarakan hal-hal
yang tidak berguna. Awalnya, Ia menanyakan film dan actor favoritku. Setelah ku
jawab, Ia malah membawa jawabanku jalan-jalan ke Antartika. Lalu, pernah saat
kita bertemu di mini market. Ia menanyakan apa mie instan kesukaanku dan berapa
porsi aku memakannya dalam sekali makan. Ia juga pernah berkata bahwa ingin
mengajakku pergi ke gedung ciptaannya nanti.
Nanti
kalau aku sudah lulus dan sudah bekerja yaa… hmm, tapi mungkin masih lama. Tapi
gak papa yang penting kamu masih di Bumi.
Dasar! Tidak ada yang tahu usia manusia di Bumi.
Tapi biarlah, aku hanya bisa meng-iyakan dalam hati. Setidaknya, kalimat itu
membuatku senang menjalani kerasnya hidup dan tidak sabar untuk menanti hari
esok.
Ya, itu lah laki-laki aneh yang ku temui di aula
pada saat itu. Laki-laki yang sifat dan sikapnya tidak dapat di deskripsikan. Aku
tidak menyukainya. Bahkan aku berpikir bahwa ini semua sedikit aneh. Kita
dipertemukan di waktu yang datang secara mendadak dan anehnya kita dipertemukan
dalam waktu yang singkat tapi sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu apakah
pertemuan ini berharga baginya, tapi yang jelas aku senang.
Setiap kata yang Ia ucapkan membawaku pergi ke
ruangan penuh puzzle, seakan ingin dipecahkan apa maksudnya mengatakan itu. Apa
isi pikirannya, apa isi otaknya terlalu semrawut? Hingga Ia menanyakan hal-hal
seperti itu. Apa Ia tidak mau tahu siapa namaku? Apa tidak lelah memanggilku
dengan kata ‘kamu’? Tapi, aku sendiri juga tidak berani menanyakan namanya.
Bahkan
dari sekian banyak pertemuan, aku masih tidak tahu siapa nama mu.
Satu Minggu setelah wisuda.
Aku pergi membeli permen dan mie instan di mini
market langgananku. Setiap hari aku mengunjungi tempat ini. Entah mengapa,
mungkin aku sedang menunggu seseorang. Seseorang yang berjanji akan menungguku
di Sabuga.
Aku masih di Bandung. Aku belum melanjutkan
perjalananku, aku juga masih bingung akan kemana nantinya. Setelah lulus
kuliah, aku benar-benar tidak tahu harus apa. Rutinitasku juga berubah. Aku
tidak lagi pergi ke kampus dan mengunjungi perpustakaan lagi, teman-teman semua
juga sibuk untuk melamar pekerjaan. Sementara aku sekarang, masih betah duduk
di mini market menunggu hujan reda.
Apalagi yang kau tunggu? Batinku.
Bahkan
di hari bahagiaku pun, aku harus bersedih karena tidak bertemu denganmu.
Kembali ke Jakarta.
5 tahun setelah mengumpulkan memori
Aku duduk termenung didepan meja makan. Aku hanya
bisa melihat makananku. Aku berpikir, mengapa semalam aku tidak memanggilnya
atau mungkin bertanya padanya. Aku terlalu ragu, aku pikir orang itu bukan
kamu, tapi ternyata… mungkin perasaanku yang terlalu ragu untuk melangkah.
Anna, teman kos ku di Jakarta, sekaligus teman
kuliahku menghampiriku. Dia yang menyuruhku keluar malam-malam untuk membeli
sesuatu di Grand Indonesia, yang menyebabkan aku bertemu dengan dia. Apa aku
harus berterima kasih padanya? Karena, jika Anna membeli barang itu di online, maka aku mungkin tidak akan
bertemu dengan manusia aneh itu. Handphone-ku berdering, Dita menelponku
setelah sekian lama kita jarang berkomunikasi.
“Halo? Ada apa? Tumben banget nelpon,”
“Eh, Van hehe, apa kabar lu! Gue cuman mau ngajak lu
ke pemakaman temen gue, lu ikut ya… please!”
“Siapa yang meninggal? Temen kantor lu? Atau temen
sekolah?”
“Temen kuliah gue. Satu kampus juga sama kita, beda
fakultas sih,”
“Oh, oke, kalau gitu gue siap-siap dulu ya,” tidak
lama untukku bersiap dan Dita juga sudah menjemputku. Satu kampus ya… aku harap
bisa bertemu dengannya lagi, batinku.
Sesampainya di pemakaman, aku melihat banyak orang
yang datang dan beberapa diantara mereka adalah teman satu kampusku. Sudah
tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah sore dan pemakaman dilakukan tadi
siang. Aku mengikuti Dita dari belakang, sesekali menyapa teman-temanku. Siapa
yang meninggal? Apa manusia aneh itu tidak berkunjung?
Disaat kerumunan orang bubar dan hanya menyisakan
aku dan Dita disamping makam. Aku mendekatkan diriku di makam itu, aku berusaha
bernafas pelan dan menahan air mata. Aku telah melihat namanya, setelah sekian
lama aku berusaha mencari namanya. Kini, aku tahu siapa namamu manusia aneh. Aku
juga melihat fotomu yang tersenyum tepat didepan batu nisan yang terukir namamu
disana. Akhirnya ya, setelah sekian lama.
Aku meletakkan lututku di tanah dan tanpa sadar aku
menyentuh dan mengusap pelan batu nisanmu. Tanpa sadar pula, aku menyebut namamu
perlahan. Kau tahu, aku sudah tidak dapat menahan air mataku. Padahal, kau
berjanji akan membawaku ke gedung ciptaanmu sendiri.
Aku berdiri dan tersenyum tipis. Sekarang, sudah
tidak ada yang bisa kulakukan lagi bukan? Jika saja aku bisa melawan Tuhan untuk
membawamu kembali barang 5 menit saja. Kau bahkan belum tahu siapa namaku.
Aku melihat seorang anak berbincang dengan Dita dan
anak itu pun menghampiriku. Ia memberikanku sebuah buku, yang tertulis diatas
buku tersebut namamu. Anak itu tersenyum padaku dan berlari kembali ke mobil
rombongan. Apa dia adikmu?
Aku kembali bersama Dita. Di mobil hanya ada
keheningan diantara kita, sepertinya Dita tahu bahwa aku baru saja menangis di
pemakaman tadi. Aku melihat buku ini, buku yang cukup tebal. Aku ingin sekali
membukanya sekarang, sangat penasaran dengan apa yang Dia tuliskan disini. Apa
Dia memberiku teka-teki rumit seperti dulu? Atau jangan-jangan ada 1000
pertanyaan aneh yang harus aku jawab.
Sesampainya dirumah. Aku bergegas mengganti bajuku
dan siap untuk membuka buku ini. Apa yang dipikiranmu, apa semua isi buku ini
tentangku?
Aku membuka halaman demi halaman. Aku melihat
biodatamu dihalaman pertama dan biodataku di halaman kedua. Ya, biodataku, dan
tertulis pula namaku. Di halaman selanjutnya aku melihat banyak kumpulan puisi
mu yang sangat indah dan kau sering menyebutku disana. Ternyata, selain pandai
membuat puisi yang indah, kau juga pandai melukis wajah seseorang. Seorang
perempuan dan perempuan itu adalah aku. Kau melukisku saat aku belajar di perpustakaan,
saat aku mengeluh di mini market karena antrian yang cukup panjang, dan kau
juga melukisku saat aku sedang fokus mendengarkanmu.
Bahkan, di akhir halaman “lukisan”. Aku melihat
sketsa gedung yang sangat bagus dan megah serta tertulis dibawahnya “Hadiah
untuk si maniak jurnal”. Hahaha… padahal Kau sendiri juga sering membaca banyak
jurnal bersamaku.
Aku membaca lembar terakhir, bertuliskan 50 harapan
dan impianmu yang sangat indah. Dan 49 dari 50 impian itu, tertulis namaku. Kau
benar-benar menuliskan namaku disetiap harapanmu dan aku pikir bahwa sebenarnya
ini semua bertujuan untuk membuatku bahagia daripada membuatmu bahagia. Kau
ingin mengajakku keliling dunia, kau ingin menggenggam tanganku walau hanya
sebentar, kau ingin membawaku ke pentas opera, dan kau juga ingin membawaku ke
gedung ciptaanmu itu, seperti yang kau janjikan. Dan diakhir harapanmu, kau
berharap agar kau masih di Bumi hingga kau dapat membahagiakanku.
Aku tidak tahu antara harus bersedih atau bahagia.
Bahagia karena meski 5 tahun kita tidak bertemu, kau masih mengingatku begitu
pula denganku dan aku sedih karena semua harapanmu tidak dapat tercapai. Tapi,
kau tidak perlu sedih, aku cukup bahagia disini, yakinlah bahwa Tuhan telah
memberi kita sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita kira. Mengenalmu bahkan
mengetahui namamu setelah 5 tahun adalah kebahagiaan yang berarti bagiku.
Maaf ya… karena aku terlambat menyadarinya. Aku
terlambat menyadari bahwa aku telah meletakkan separuh harapan dan perasaanku
padamu. Dan bodohnya, selama 5 tahun ini aku hanya menunggu dan menantimu,
tanpa berusaha mencarimu. Karena, aku pikir, mungkin memang pertemuan kita saat
itu hanya sebuah ketidak sengajaan yang memang tidak akan pernah bisa
diteruskan bahkan disambung seperti dulu lagi.
Kau tahu, Andika Saputra? Bahwa 5 tahun adalah perpisahan sementara yang telah kita lewati, kita telah bertemu di bus malam itu, setelah sekian lama. Dan perpisahan abadi, juga sedang kita lewati, bukan?
-
Selesai