Letter For Manhattan (By : Hazzanut)
Letter
for Manhattan
Karya : Layli Zahra (Hazzanut)
Waktu itu aku ingin sekali menyapamu. Karena dari
sekian banyak manusia disana, mataku hanya tertuju pada seorang anak laki-laki
yang dimarahi habis-habisan oleh ibunya, karena anak nakal itu dengan berani
memukul bokong Tuan Calder hingga Ia nyaris terjungkal. Aku tidak tertawa,
Dylan, percaya lah. Aku tidak ber-ekspresi saat itu, aku bingung lebih
tepatnya. Aku bingung apa yang akan kulakukan, aku berharap agar pesta ini
segera selesai. Karena kau tahu, anak kembar Tuan Adam selalu mengajakku bicara
hingga telingaku pecah rasanya. Sudah ya, Dylan Miller, kurasa ini sudah cukup
untuk menggambarkan pertemuanku denganmu.
“Hahaha… jadi gara-gara Dente dan Damien akhirnya
kau berlari menemuiku?” Dylan membaca surat yang ku kirim minggu lalu, dengan
topik ‘Awal Kau Mengenalku’ aneh memang. Tapi, itulah Dylan. Ada saja hal yang
muncul di kepalanya.
“Kau tidak usah tertawa! Itu semua tidak lucu.
Gara-gara itu juga aku harus berbicara dengan ibumu dan Kau tahu, saat itu
Ashley memperhatikan kita berbincang di taman. Dia pun melaporkan ke Mama kalau
kau kekasih masa kecilku,”
“Hahaha, seharusnya kau berterima kasih kepadanya.
Tanpa dia kita mungkin tidak akan bersahabat seperti ini,”
Aku mendengar suara tawa Dylan diseberang sana. Dia
begitu bahagia, sepertinya…
“Hei, bagaimana jika malam ini kita pergi ke
Lauterbrunnen? Bulan purnama akan menyinari tempat itu malam ini, pasti akan
sangat indah,”
“Kau tahu, rumahku di Zurich bukan di Bern,”
“Lalu apa bedanya dengan rumahmu di Zurich dan
rumahku di Bern. Bahkan orang dari berbagai negara pun sering mengunjungi
tempat itu,”
“Papa tidak akan mengizinkanku, Dylan. Apalagi aku
harus pergi sendirian,”
“Siapa yang bilang begitu, Valerie? Karena kau tidak
akan pernah sendirian. Keluarlah, aku sudah dibawah balkon,” apa aku sedang
bermimpi? Anak ini memang selalu ada saja. Aku keluar melihat balkon, tepatnya
dibawah balkon. Dan benar saja, Dylan sedang membantu tukang kebun memotong
rumput.
“Hei! Kenapa kau tiba-tiba disini?” teriakku dari
atas.
“Aku datang untuk menjemput Permaisuri menuju
Lauterbrunnen,” Ia membalas teriakanku.
“Hahaha… permaisuri darimananya? Memang kalau aku
permaisuri, lalu kau kaisarnya begitu?”
“Tentu saja! Dan seorang kaisar yang baik tidak akan
pernah meninggalkan permaisurinya sendirian,”
Dylan… semua perkataanmu itu selalu bisa menyihir
hatiku. Entah apa yang baru saja kau minum hingga membuatmu mengeluarkan
kata-kata itu. Yang jelas, aku selalu
berharap kamu hanya mengatakan kalimat indah itu untukku.
Aku turun dengan senyum yang sangat bahagia, Dylan. Hingga
aku mengabaikan panggilan mamaku. Aku terlalu bahagia. Sangat bahagia.
“Hei! Kenapa dadakan sekali?”
“Aku tidak dadakan, Valerie. Aku hanya lupa
memberitahumu,”
“Kau selalu lupa memberitahuku ketika kau akan ke
rumah,”
“Tapi aku tidak pernah lupa memberitahu Tuan dan
Nyonya Atkinson, Valerie,” Ia tersenyum licik. Tatapan hangatnya selalu
meneduhkan, meskipun dia sedikit menyebalkan terkadang.
“Selamat siang, Nyonya Atkinson,” Dylan memberi
salam dan hormat ke mamaku.
“Ah, Dylan! Sudah sampai kau rupanya,” Mama menyapa Dylan dan membalas salam hangatnya.
“Bagaimana kabar Anda Nyonya Atkinson?”
“Selalu baik dan bahagia, Dylan,”
“Sangat senang mendengarnya, bagaimana dengan
paman?”
“Bulan lalu dia dirawat di rumah sakit, penyakit
jantungnya kambuh,”
“Oh, ya? Lalu sekarang bagaimana keadaannya?” Dylan
dan Mama asik berbincang di ruang tamu. Lebih baik aku ke dapur menyiapkan
makan siang.
Waktu makan siang tiba. Mama, Dylan, serta Papa
sudah berada di meja makan. bahkan Ashley datang tepat waktu.
“Oh, Hey, Ashley! Bagaimana kabarmu?” Dylan memberi
senyum manis untuk Ashley.
“Menurutmu?” jawab Ashley dengan ketus.
“Ah! Kau selalu ketus padaku,”
“Hmm… apa yang akan kau tanyakan?”
“Kapan kau menikah?”
“Hei! Apa maksudmu menanyakan pertanyaan itu!”
Ashley menaikkan suaranya. Dia tampak marah. Dia sangat sensitive dengan
pertanyaan apapun dari Dylan.
“Tenang… aku hanya bertanya sebuah pertanyaan yang
bisa kau jawab dengan dua jawaban ‘sebentar lagi’ dan ‘tidak tahu kapan’ kau
tidak perlu marah-marah Ashley, kau sudah 30 tahun. Valerie saja sebentar lagi
menikah,” Eh, apa maksudnya dia bilang begitu. Dan dengan santainya dia
menaikkan kedua alisnya padaku. Apa dia buta, disitu kan ada kedua orangtuaku.
“Aku sudah bertunangan, jadi kau bisa diam?!” Dylan
pun tertawa mendengar jawaban Ashley, Dylan memang suka menjahilinya.
Makan siang pun berakhir. Rasanya baru pertama kali
makan siang seramai ini, tentu saja karena Dylan. Ada saja kelakuannya yang
membuat seisi rumah tertawa. Aku harap aku juga bisa menghiburnya, sebagaimana
dia menghiburku dan keluargaku.
“Tuan dan Nyonya, saya mau meminta izin untuk
mengajak Valerie ke Lauterbrunnen,”
“Eh, ke Lauterbrunnen? Kenapa dadakan sekali,”
“Karena saya ingin mengajak Valerie melihat bulan
purnama di Lauterbrunnen,”
“Kenapa jauh sekali, di Zurich pun bisa melihat
bulan purnama,”
“Sensasinya berbeda, Ellie. Biarkan mereka pergi,
Valerie sudah besar dan Dylan ada bersamanya,” Papa menyutujui Dylan untuk
membawaku, tumben sekali papa dengan mudah mengizinkan Dylan.
Aku pun bergegas menuju kamar dan menyiapkan pakaian
yang pantas kukenakan. Apa lebih baik aku mengenakan gaun? Baju harianku? Dylan…
harus kau ketahui bahwa aku sangat bingung memilih pakaian ketika akan keluar
bersamamu. Karena, aku ingin selalu terlihat cantik didepanmu.
Aku bingung, Dylan. Waktuku sudah habis untuk
sekedar memilih pakaian. Aku harap kau suka. Aku turun dengan dress satin
selutut berwarna pink, rambut brunetteku ‘ku kepang karena katamu aku terlihat
cantik bila rambutku dikepang, aku tidak mengenakan heels. Aku mengenakan
sepatu ballet yang senada dengan warna gaunku, karena ini pemberianmu 2 tahun
lalu.
“Ya ampun, Valerie. Dylan sudah menunggumu 1 jam,”
“Ma-maaf kalau aku lama,”
“Tidak apa-apa Nyonya, Valerie sedang mempersiapkan
yang terbaik untuk dirinya,”
Tidak, Dylan. Aku sedang mempersiapkan yang terbaik
untukmu.
“Baiklah, ayo Tuan Putri, kereta kudanya sudah
menunggu,” Dylan membawaku pergi setelah aku berpamitan ke Papa dan Mama. Entah
mengapa aku sangat bahagia hari ini.
Dylan membukakan pintu untukku. Aston Martin DBR1,
mobil klasik keluaran 1956 ini milik siapa? Dylan tidak punya mobil, mobil
terakhir Ia jual untuk membayar sewa rumah keluarganya.
Mobil pun mulai berjalan, Dylan sangat tahu aku suka
mobil seperti ini. Ia memutar radio dan musik-musik bersenandung ria mengiringi
perjalanan kami.
“Ini mobil siapa?”
“Paman Josh,”
“Siapa dia?”
“Tetanggaku di Bern, dia suka mengoleksi mobil-mobil
klasik. Biasanya aku membersihkan mobil-mobilnya. Dia sangat kaya, Valerie. Dia
bisa membeli banyak mobil antik yang harganya tidak murah, aku juga ingin…”
“Kau pasti bisa membeli semua mobil keinginanmu,
bahkan apapun yang kau inginkan pun dapat kau raih,”
“Ya. Aku harap aku segera mendapatkan pekerjaan yang
layak,”
“Aku akan selalu mendoakanmu,”
Aku menggenggam tangannya. Dia tersenyum dengan
manis.
“Ngomong-ngomong kenapa paman itu baik sekali
meminjamkan mobil ini padamu, ini kan mahal, nanti kalau ada rusak atau apa, bagimana?”
“Aku memberinya jaminan dan berjanji tidak akan
merusak sedikit pun. Dia mempercayaiku dan aku tidak boleh kehilangan
kepercayaannya. Aku juga berjanji agar mengendarai mobil dengan santai, seperti
sekarang, santai bukan?” Aku pikir karena kau ingin menghabiskan waktu lama
bersamaku.
Perjalanan Zurich menuju Lauterburnnen terasa sangat
cepat. 2 jam kita lalui dengan berbincang dan bernyanyi. Momen-momen ini sangat
indah. Kita pun sampai di kedai kopi milik paman Dylan.
Lauterbrunnen sangat ramai bahkan disore menjelang
malam ini masih banyak orang-orang yang datang. Dylan menggandeng tanganku, Ia
mengenalkanku pada pamannya, Paman Hans. Ternyata, Paman Hans adalah pemilik
kedai kopi ini, dia juga pemilik bar sebelah.
Dylan mengajakku duduk dibangku kosong yang
sepertinya telah dipesan sebelumnya. Bangku yang mengarah ke pemandangan luar,
pemandangan Lauterbrunnen yang sangat cantik dikala senja ini. Dylan juga
memesankan cokelat hangat untukku.
“Kau memesan bangku ini sebelumnya?”
“Tidak,”
“Sungguh?”
“Apa aku pernah tidak bersungguh-sungguh padamu?
“Ah! Maksudku, aneh saja. Kedai ini sangat ramai dan
hanya ada satu bangku yang kosong dengan pemandangan secantik ini. Jika tempat
ini tidak dipesan sebelumnya, pasti sudah ada yang menempati,”
“Hmm… lebih tepatnya aku meminta paman untuk mengosongkan
bangku ini,”
“Huh! Sudah kuduga,” Aku sudah menduga Dylan akan
melakukannya, ini kedai kopi milik pamannya bukan.
Kami menikmati hidangan yang Dylan pesan, sudah
berkali-kali aku tawarkan untuk membayar tetapi Ia selalu kekeuh untuk
mentraktirku. Dylan sangat tahu apa kesukaanku, begitu juga denganku yang tahu
apa kesukaannya. Kita sama, Dylan. Dan seharusnya kita bisa lebih dari ini.
Hari sudah mulai malam, Dylan mengajakku ke bar
milik pamannya disebelah. Katanya, Ia mau mengenalkanku pada teman-temannya.
Bar ini sangat ramai bahkan hampir padat, banyak muda-mudi mengunjungi bar ini.
“Katamu, kau akan mengenalkanku pada temanmu,”
“Itu mereka, hey!” Dylan menggandeng tanganku,
selalu. Membawaku menuju meja dimana ada 2 orang laki-laki seumuran kita
disana. Sudah ada 3 gelas yang kosong, kuharap mereka belum mabuk.
“Heyy!” jawab mereka serentak. Untung saja dua orang
ini belum mabuk.
“Valerie, kenalkan mereka teman-temanku di Bern.
George dan Zach,”
“Hai, Valerie! Salam kenal,” salah seorang temannya
bernama Zach menyapaku dengan hangat.
“Halo, jadi kau wanita itu,” George menatapku tajam.
Ia kembali meneguk gelasnya yang ke 3, aku hanya diam duduk disebelah Dylan.
Aku tidak tahu harus membalas apa.
“Santai saja, Valerie. Kita disini untuk bersenang-senang,
kau mau bir?” ujar Zach menenangkanku.
“Ah, iya…” aku meminum bir perlahan. Aku tidak
terbiasa dengan minum-minuman ini.
“Jangan terlalu banyak minum. Kau tidak terbiasa,
nanti kau mabuk jika menghabiskan satu gelas ini. Biar nanti aku yang
menghabiskannya,” Dylan mencegahku dan memegang gelas birku.
“Biarkan dia, Dylan. Dia sudah besar, mabuk pun
tidak masalah. Kecuali, jika Ia seorang Tuan Putri yang dikekang dan diatur
oleh istana,” George menatapku sinis sembari lanjut meminum birnya. Apa Ia
sedang mengujiku? Meremehkanku? Maksudnya apa Ia mengatakan hal itu.
Aku mendobrak meja dengan keras hingga semua mata
menatapku. Aku berdiri dengan tatapan sinisku pada George. Ku raih gelas birku,
kuteguk minuman itu hingga tak tersisa setetes pun. Aku juga meraih gelas bir
ke-empat George dan menghabiskannya. Semua mata masih mengarah padaku hingga
tetes terakhir di gelas George dan semua orang berteriak, bertepuk tangan,
mengapresiasi, entah apapun yang mereka lakukan hingga terasa ramai.
“Valerie! Apa yang kau lakukan?! Kau bisa mabuk!”
sedari tadi Dylan mengkhawatirkanku. Dari tegukan pertama, tatapan matanya
mununjukkan kecemasan. Maafkan aku, Dylan. Jika tidak gara-gara temanmu, aku
tidak akan melakukan ini.
“Maaf, tapi aku bisa mengatasinya,” Dylan menatapku
sendu, kecewa? Mungkin.
“Minumlah air putih, setelah itu kita berdansa,”
“Apa? berdansa? Tapi bar ini bukan tempat yang cocok
untuk berdansa, Dylan,”
“Apakah berdansa harus mengenakan gaun? Mengenakan
sepatu heels? Dan bahkan harus
menyewa ballroom? Ini berbeda, Valerie. Kau akan merasakan dansa yang sangat
seru,” Dylan menggandeng tanganku dan menarikku, musik mulai mengeluarkan
nadanya perlahan.
Ini musik yang sama di film Titanic, saat Jack
mengajak Rose berdansa. Apakah aku harus berdansa seperti Rose?
“Kau tau musik ini?”
“Tentu saja! Kita baru saja menonton filmnya,”
“Ini musik yang seru bukan?”
“Ya, sangat! Jack mengajak Rose berdansa,”
“Kalau begitu, kau harus berdansa selincah Rose,”
“Hahaha,” kita mulai berdansa sepanjang malam,
tertawa, menyanyi hingga lupa waktu dan juga tujuan kita kemari. Dylan sangat
bahagia, senyum selalu menghiasi wajahnya yang tampan. Semakin malam bar
semakin penuh oleh pengunjung. Orang-orang silih berganti memasuki bar. Aku dan
Dylan semakin larut dalam lantunan musik bar serta permainan judi yang sangat
meriah. Aku tidak tahu dimana dua sahabat karib Dylan, aku tidak peduli.
“Sudah ya bermainnya, ayo keluar,” Dylan menggandeng
tanganku dan membawaku keluar, aku yang sedari tadi bermain dengan orang-orang
asing bar tersadar bahwa ini sudah pukul 11 lebih.
Dylan membawaku ke sebuah tanah kosong berumput
milik pamannya. Tempat yang sangat indah untuk melihat Reichenbach fall dari kejauhan, tempat yang indah juga untuk
melihat purnama. Kami duduk berdua memandangi indahnya purnama, sebenarnya kita
tidak benar-benar berdua tentu saja. Banyak kendaraan dan orang-orang
berlalu-lalang dan tentu saja ramai.
Dylan menyalakan lampu pijar yang Ia bawa. Ia
meletakkan lampu ini diantara kita. Ia juga membawa sebungkus permen dan
meletakkannya di sebelah lampu pijar itu.
“Valerie, kapan terakhir kali kau mengunjungi
Lauterbrunnen?”
“Emm… 6 tahun yang lalu dan itu pun hanya mampir ke
rumah teman Mamaku, ada apa?
“Kau tahu, Valerie. Setiap hari aku mengunjungi
tempat ini, tapi baru kali ini aku melihat Lauterbrunnen seindah ini, kau tahu
mengapa? Karena ada kamu disini yang melengkapi keindahan sinar purnama di
Lauterbrunnen” Dylan… bisakah kau tidak mengatakan suatu hal yang membuatku
malu. Aku tidak malu, hanya saja… pipiku seperti panas dan aku juga tidak bisa
berhenti tersenyum.
“Dasar! Kau pasti merayuku kan! Kata-katamu itu
sangat menjijikkan” aku berusaha untuk tetap tenang.
“Hahaha… terserah apa katamu, tapi sekarang kau
sedang merona, Valerie. Aku tidak sedang merayu, aku hanya membicarakan sebuah
kenyataan,” untung saja Dylan tetap fokus melihat purnama.
“Dylan… ada apa?” aku melihat Dylan yang menatap
jalanan dengan sendu.
“Valerie, apa kota favoritmu di dunia ini dan apa
alasannya,” Dylan tidak menjawab pertanyaanku, Ia malah bertanya balik.
“London! Aku sangat mencintai kota kelahiranku itu,
kalau Kau?”
“Lauterbrunnen,”
“Mengapa kau sangat mencintai kota ini? Dan mengapa
tidak Stockholm?”
“Karena, Lauterbrunnen adalah tempat yang lebih dari
indah, Valerie. Tempat dengan kehangatan dan memori yang menakjubkan yang tak
akan bisa ku lupakan, tempat ini adalah satu-satunya tempat yang akan sangat
kurindukan kehadirannya dalam hidupku,” Dylan menatap bulan purnama dalam,
perkataannya tidak pernah sedalam ini. Bahkan Ia tidak menjawab pertanyaanku
tentang Stockholm.
“Dylan, kau tidak menjawab pertanyaanku,”
“Eh! Pertanyaan apa?”
“Kenapa Stockholm bukan kota favoritmu?” Dylan
tertawa kecil atau lebih tepatnya tertawa mengejek, mungkin…
“Aku tidak pernah menyukai kota itu dan bahkan aku
membencinya. Hingga akhir hayatku pun akan selalu seperti itu,” Mengapa, Dylan?
Itu kan tempat kelahiranmu.
“Lihat! Bulannya mulai terlihat sepenuhnya,” Dylan
menunjukkan bulan purnama itu dengan pandangan yang terus menyorot keindahan
purnama. Ia tidak melihatku sama sekali sejak kalimat pertama yang Ia ucapkan.
Beberapa saat tidak ada kata yang keluar dari mulut
kita. Suasana Lauterbrunnen menjadi hening, tanpa suara dan hiruk pikuk
keramaian. Ini sudah pukul 12 malam wajar saja tempat ini sudah sepi. Rasanya,
seperti hanya ada aku dan Dylan.
“Valerie…” Dylan memanggilku dengan suara yang
sangat lembut.
“Ada apa?”
“Apa yang akan kau lakukan, jika suatu hari kau
pergi ke London?”
“Hmm… aku akan keliling London, mengunjungi Istana
Buckingham, berdiri tepat dibawah Menara Big Ben, dan… menikmati hari-hari
indah di London,” aku bercerita panjang-lebar, aku sangat bahagia hanya dengan
membayangkan London.
“Aku ikut bahagia, Valerie. Mendengar suara tawamu saja
aku juga ingin tertawa,”
“Eh! Kenapa begitu?”
“Karena, tawamu sangat jelek, hahaha,” aku memukul
pundak Dylan, aku pikir dia akan memuji caraku tertawa.
“Hahaha… tidak, Valerie. Aku bercanda,” huh! Aku
tidak peduli. Aku masih kesal. Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya, jika
Ia sedang jahil wajahnya akan 1000× lebih jelek.
“Berhenti tertawa! Tawamu juga jelek!” Dylan tidak
memperdulikan perkataanku barusan, tawanya makin kencang.
“Valerie, maaf ya, tadi aku hanya bercanda. Aku
hanya ingin melihat tawamu untuk terakhir kali,” Dylan berhenti tertawa, Ia
mulai tersenyum sendu.
“Apa? Kau mau kemana?” aku terkejut ketika Dylan
mengatakan hal itu.
“Kau tahu Manhattan, Valerie?”
“Manhattan… itu di Amerika, bukan?”
“Iya, benar sekali,” Dylan… tolong jangan katakan
bahwa kau akan pergi.
“Lalu, ada apa dengan Manhattan?”
“Val, aku rasa sudah saatnya aku menemukan titik
terakhir di hidupku,”
“Titik terakhir apa, Dylan?” Dylan mendekatkan diri
padaku, Ia menggenggam tanganku hangat.
“Kau tahu, rumah tangga orang tuaku berantakan, Papa
berhutang banyak sekali, Mama mulai sakit-sakitan, adik-adikku harus tetap
sekolah meskipun keadaan ekonomi kami memburuk, dan aku sebagai kakak malah
menjadi pengangguran. Aku harus hidup dan menghidupi keluargaku,”
“Lalu? Apa hubungannya dengan Manhattan?”
“Sepupuku ada disana, Ia memiliki usaha kain dan
pakaian. Beberapa waktu lalu Ia menghubungiku dan mengatakan bahwa akan
menerimaku sebagai karyawannya. Mendengar itu aku tidak ingin menyianyiakan kesempatan
lagi,”
“Tapi, kenapa harus sejauh itu, Dylan? Banyak sekali
pekerjaan yang terbuka di Swiss, kenapa harus Manhattan?”
“Papa berhutang di hampir semua perusahaan dan toko
yang ada di Swiss, namaku di blacklist
di semua perusahaan,”
“Kau bekerja saja di Papaku,”
“Tidak, Valerie. Meskipun Papamu baik padaku, tapi
Ia sangat membenci Papaku,”
“Jadi, kau sungguh ingin pergi ke Manhattan,”
“Iya,” Dylan menjawab dengan yakin, tanpa keraguan
sedikit pun.
“Kapan kau akan berangkat?”
“Besok sore,”
“Besok…” Kenapa secepat itu, Dylan.
“Maaf karena terlalu mendadak,”
“Dylan, apa kau tidak memikirkan lagi? Mungkin ada
satu atau dua perusahaan dan toko yang masih mau menerimamu,”
“Tidak. Aku benar-benar harus menutup perjalananku
di kota ini, di negara ini,”
“Kau akan meninggalkan banyak orang, sahabatmu,
George dan Zach, Paman Josh dan mobil antiknya… dan juga aku, Dylan,” Aku
menatap Dylan, Dylan membalas dengan senyum hangat. Tangannya meraih wajahku.
“Valerie, kau adalah wanita terbaik yang pernah aku
temui. Kau tahu kan bahwa aku suka mengoleksi peta. Dimanapun aku berada,
ketika aku melihat Tanah Eropa membentang di petaku, maka itu adalah kamu.
Perjalanan yang kita lalui di Tanah Eropa akan membawaku bersamamu,
memori-memori yang ada dibenakku tentang Tanah Eropa adalah kamu. Kamu adalah
Tanah Eropa yang akan selalu ku rindukan, Valerie, selalu,”
Di sebuah titik di Tanah Eropa, dengan sinar purnama
yang menyinari sebuah kesedihan yang mendalam. Dylan menciumku untuk pertama
kalinya, ciuman pertama yang aku dapatkan dari orang yang aku cintai. Air mata
membasahi pipiku dan Dylan, aku tidak peduli. Yang ku ingin sekarang hanya
Dylan, untuk terakhir kalinya dibawah sinar Purnama, di tempat terindah di Tanah
Lauterbrunnen.
Air mataku tak berhenti mengalir meskipun ciuman ini
sudah berakhir. Aku membutuhkan waktu. Waktu untuk mencerna segalanya, waktu
untuk merasakan sebuah perpisahan yang nyata, waktu untuk menerima semua yang
ada di dunia ini, dan waktu untuk menerima kenyataan bahwa Dylan akan
meninggalkanku.
“Berapa lama?”
“Apanya?”
“Berapa lama kau di Manhattan? Berapa lama aku harus
menunggumu pulang?”
“Valerie… dengarkan aku,”
“Berjanjilah! Ku mohon,”
“Valerie, aku tidak pernah berani mengucap janji
denganmu, aku takut akan menyakitimu apabila aku mengingkarinya. Semua insan
dipertemukan lalu dipisahkan dengan apapun caranya. Seperti kita. Mungkin kita
tidak mendapatkan akhir yang bahagia didunia ini, tapi di lain kesempatan,
dikehidupan selanjutnya, kita akan mendapatkan akhir yang indah untuk…
bersama,”
“Dylan! Aku hanya ingin tahu kapan kau pulang ke
Bern!”
“Maafkan aku jika aku sering menyakitimu, karena
malam ini adalah pertemuan terakhir kita. Pertemuan terbaik di dunia yang akan
selalu kukenang, karena aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di Tanah
Eropa lagi, Valerie. Sampai akhir hayatku,”
25.200
detik kemudian.
Suara burung yang berkicau mulai terdengar. Sinar
matahari mulai menusuk mataku. Para pembantu berlarian kesana-kemari untuk
menyiapkan segalanya. Orang-orang rumah sudah siap dengan pakaian mereka yang
anggun bak bangsawan. Sementara diriku, hanya bisa duduk menatap jendela.
Berusaha mencerna apa yang Bumi berikan padaku.
Entah mengapa, disaat
seperti ini aku ingin sekali menjadi pribadi yang egois. Aku ingin melarang
Dylan pergi ke Manhattan, aku ingin menahannya di Bern, atau mungkin membawanya
pergi ke London. Aku tidak peduli jika aku dijuluki ‘Manusia Paling Egois’ di
Bumi. Karena, setiap manusia punya sisi seenaknya sendiri bukan?
Aku masih tidak beranjak dari kasur. Jam menunjukkan
pukul 2 siang hampir sore. Aku hanya keluar kamar untuk mengambil air, mungkin
orang rumah mengiraku sedang tidak waras karena tidak makan satu sendok pun.
Aku hanya duduk diatas kasur, menatap jendela balkon dan berharap Dylan
berteriak memanggilku seperti kemarin.
Dylan…
ayo panggil aku.
Aku tidak ingin menangis, Dylan. Aku tidak akan
melarangmu pergi, meskipun aku ingin sekali menghentikanmu. Tapi… aku tidak
ingin egois padamu. Mungkin kau benar, seseorang dipertemukan lalu dipisahkan
dengan apa pun caranya.
Aku tertawa kecil. Dylan, sebentar lagi kau
berangkat. Aku tidak ingin menyusulmu, tapi aku ingin sekali memelukmu untuk
terakhir kalinya.
Suara mobil terdengar dari luar. Sepertinya akan ada
tamu yang datang.
“Valerie, ada seseorang yang ingin bertemu,”
“Siapa?”
“Aku tidak mengenalnya, mungkin Kau mengenalnya,”
Mama menyuruhku segera turun, meskipun penampilanku ini seperti gelandangan
yang tidak makan berhari-hari bahkan tidak mandi bertahun-tahun.
Aku melihat 2 orang sedang duduk di ruang tamu.
Tampaknya mereka bukan kolega atau konglomerat. Pakaian mereka sangat biasa,
bahkan seperti 2 orang yang baru saja selesai mabuk.
“Valerie! Ayo ikut kami,” Dua orang ini ternyata
George dan Zach. Zach menggandeng tanganku, hendak mengajakku pergi.
“Tu-tunggu, ada apa? Kemana?”
“Sebentar lagi Dylan berangkat. Ayo!”
“Tidak… aku tidak mau bertemu dengannya lagi,”
“Tapi dia mau, ayo!” Zach bahkan menarikku tanpa
peduli dengan penampilanku. Sementara George hanya diam saja membuntuti kita.
Aku segera berganti pakaian. Sebentar lagi Dylan
pergi, aku tidak boleh terlambat. aku berlari secepat mungkin menuju parkiran.
George dan Zach pasti menungguku lama. George menyetir mobil sangat cepat
bahkan mungkin dengan kecepatan maksimal.
Daun-daun mulai berguguran, musim gugur telah tiba.
Aku membayangkan keindahan Lauterbrunnen saat musim gugur, pasti sangat indah.
Apakah Ia tidak merindukan musim gugur di Bern? Aku
tidak ingin memikirkannya lagi.
Tidak terasa sudah sampai di bandara. Waktu
benar-benar terasa cepat. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika
bertemu Dylan.
“Valerie, ayo! Jangan melamun, pesawatnya sebentar
lagi berangkat,”
“Ah! I-iya,” aku benar-benar seperti orang linglung.
Aku berlari mengikuti George dan Zach tanpa tahu mereka akan membawaku kemana.
Aku berhenti sejenak. Zach dan George berlari sangat
kencang, aku tidak bisa mengikuti mereka. Aku memilih untuk berjalan dan
menikmati waktu, bukan berarti aku tidak ingin bertemu Dylan. Tapi, jika
nantinya Tuhan memang mengizinkan aku bertemu dengannya…
“Dylan!”
Aku berlari sekencang mungkin. Aku meneriakkan
namanya dan tak peduli jika banyak orang melihatku. Aku hanya ingin melihatnya
untuk terakhir kali dan memastikan kepergiannya.
Aku memeluk Dylan.
Dan Ia membalas pelukanku.
Pelukan yang hangat dan dalam seolah tak ingin
dilepaskan bahkan ditinggalkan.
Aku tidak ingin menangis, Karena aku ingin
melepaskan Dylan dengan ikhlas.
“Kamu datang,” Dylan tersenyum hangat.
“Ya… aku datang,” Ia memegang pipiku.
“Selamat tinggal, Valerie,” aku melihat jadwal
penerbangan dan pesawat Dylan sebentar lagi akan berangkat.
“Dylan…”
“Aku pikir kau tidak akan menemuiku. Aku hanya ingin
pamit, Valerie. Pamit dengan baik padamu agar Kau bisa menerima kepergianku.
Berikan salam terakhirku pada Papa dan Mama, aku sangat berterima kasih karena
mereka telah mengizinkanku membahagiakanmu… walau hanya sebentar,” aku tidak
bisa berkata-kata. Sebuah perpisahan yang pertama kalinya terjadi di hidupku.
“A-aku… aku menerimanya. Hati-hati ya… jangan lupa
mengabariku,” aku tidak bisa menahan tangisku lagi.
“Aku akan selalu mengabarimu lewat cerita dibukuku
yang tak akan pernah habis, George dan Zach, Papa dan Mama, dan semua orang yang dekat denganmu,”
“Kenapa tidak langsung kepadaku?”
“Karena, aku takut tidak bisa melupakanmu, Valerie.
Karena, aku harus menerima kenyataan bahwa, perempuan didepanku ini nantinya
akan hidup bahagia dengan orang lain dan orang itu bukan aku,”
“Ta-tapi…”
“Sudah ya, Valerie. Sampai sini dulu, sampai jumpa,”
Dylan memeluk Zach dan George dengan cepat. Aku
dapat melihat raut kesedihan diwajah keduanya. Dylan benar-benar pergi, Ia
melambaikan tangan padaku dengan senyumnya yang sangat manis. Senyum yang tak
akan kulihat lagi.
Dan Dylan pun pergi. Meninggalkan Tanah Eropa dengan
sejuta memorinya. Aku duduk dan masih berada di bandara. Zach dan George
melihat pesawat Dylan yang segera lepas landas.
Dylan,
bahkan kita belum membicarakan musim gugur tahun ini, kita belum mengunjungi
Venice, dan masih banyak lagi yang belum kita lakukan. Kau pergi terlalu cepat.
Selamat tinggal.
Mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakan tentang London padamu lewat
mimpi dan lewat cerita dibuku harianku. Aku akan meneruskan hobi melukisku
seperti yang pernah kau katakan untuk melanjutkannya. Aku akan berkeliling
Eropa sendiri, meneruskan sisa perjalanan yang belum kita lakukan. Mulai hari
ini, aku akan melakukan semuanya sendiri tanpamu lagi.
London,
Inggris.
8
tahun setelah kepergianmu.
Dikehidupan baru, di Inggris. Aku mulai mengejar
mimpiku, menjadi pelukis sekaligus penulis blog
tentang perjalananku di Tanah Eropa. Aku sangat menikmati hari-hariku di London
meski terkadang sangat sibuk dan melelahkan. Aku melanjutkan perjalanan
keliling Eropa bersama Zach dan George, sebelum akhirnya aku menetap di London
bersama mereka.
Sesekali kami kembali ke Swiss untuk berkunjung dan
bernostalgia. Zach dan George sangat baik, kami menghabiskan perjalanan dengan
seru. Ah, andaikan… lagi-lagi aku berandai. Berandai bahwa kamu juga ikut dalam
perjalanan ini. Aku selalu berpikir bahwa, mungkin kau memang bersama kami.
Hari ini, aku
mengunjungi Lake District. Bersama
Zach dan George tentunya. Menghabiskan waktu sejenak untuk merasakan udara yang
segar dan rumput yang menari. Kau tahu, Dylan, aku ingin sekali melanjutkan
perjalananku ke Tanah lain. Aku ingin mengunjungi Tanah Asia, Tanah Afrika,
Tanah Australia, dan juga Tanah Amerika. Menurutmu, jika aku mengunjungi Tanah
Amerika dan mengunjungi Manhattan, apa aku masih bisa bertemu denganmu?
Di sebuah negeri indah di Tanah Eropa. Aku mengambil
secarik kertas dan pena dari dalam tasku. Kembali duduk di rerumputan bersama 2
sahabat baikku. Aku ingin sekali menuliskan satu-dua kata, berharap dengan
kata-kata ini aku bisa tahu kabarmu setelah 8 tahun lamanya tak bertemu.
Dear,
Manhattan
Tolong,
sampaikanlah salamku pada Dylan Miller.
Dylan, sudah 8 tahun sejak kepergianmu ke Manhattan.
Dan sudah 8 tahun pula kau membalas perasaanku. Aku tidak berharap bahwa kau
akan kembali ke Swiss lagi, sungguh aku tidak berharap. Tapi, aku sangat
munafik apabila mengatakan bahwa aku tidak merindukanmu. Aku akan jujur, Dylan,
seperti apa yang selalu kau ingatkan padaku, agar selalu jujur pada perasaanku
sendiri. Aku menuliskan surat ini untuk beberapa hal yang mengganggu pikiranku.
Apa
kabar? Sudah 8 tahun sejak kau meninggalkan Tanah Eropa,
tanah yang akan selalu kau rindukan.
Bagaimana
keadaan Manhattan? Apa kota itu sesuai dengan harapanmu?
Aku harap Ia selalu menjagamu.
Apa
kau mendapat pekerjaan yang layak? Dan kau bisa membeli
mobil antik impianmu.
Siapa
yang ada disisimu sekarang? Apa Ia membuatmu bahagia?
8 tahun bukan waktu yang sebentar dan entah mengapa
namamu masih terkurung dalam diriku. Padahal, Kau sudah pamit dengan baik
padaku, hahaha. Dylan, setiap aku mengunjungi Lauterbrunnen, aku selalu
mengingatmu. Kedai kopi milik Paman Hans terasa sepi tanpamu. Aku juga
merindukanmu mengajakku berdansa.
Aku menulis surat ini sebagai bukti dan janjiku
untuk melupakanmu dan beralih ke lembar baru. Aku ingin benar-benar
melepaskanmu, bukan hanya ucapan saja tapi juga tindakan. Setelah 8 tahun
lamanya, aku ingin terus melanjutkan perjalanan tanpa lagi mengingatmu. Seperti
kau juga pasti akan melupakanku, entah kapan, tapi pasti.
From,
Valerie Atkinson
Yang
akan melanjutkan petualangannya tanpa Dylan.
